Klaim Suriah Tembak Jatuh Misil Merupakan "Alarm Palsu" - Kompas.com

Klaim Suriah Tembak Jatuh Misil Merupakan "Alarm Palsu"

Kompas.com - 17/04/2018, 21:21 WIB
Warga Suriah mengendari sepeda motor melintasi kawasan yang rusak di kota Douma, Senin (16/4/2018).AFP/LOUAI BESHARA Warga Suriah mengendari sepeda motor melintasi kawasan yang rusak di kota Douma, Senin (16/4/2018).

DAMASKUS, KOMPAS.com - Sebuah sumber di internal militer Suriah memberi pernyataan atas kabar sistem pertahanan udara telah mereka menembak jatuh serangan misil di Homs.

Komandan kawasan regional yang menolak disebutkan identitasnya berkata, serangan rudal tersebut merupakan alarm palsu.

Dilansir Reuters via London Evening Standard Selasa (17/4/2018), komandan itu berujar bahwa sistem pertahanan Suriah memang melakukan tembakan.

"Namun, diketahui sistem tersebut mengalami malfungsi, dan bukan sebuah respon atas serangan rudal," kata komandan tersebut.

Komandan tersebut kemudian menyalahkan Amerika Serikat ( AS) dan Israel. Kedua negara tersebut dianggap melakukan "serangan gabungan" untuk meretas sistem radar Suriah.

Baca juga : Pasukan Suriah Tembak Jatuh Misil yang Incar Pangkalan Udara di Homs

Sebelumnya, media pemerintah Suriah, SANA, melaporkan kalau sistem anti-udara mereka berhasil mencegat serangan rudal yang menyasar pangkalan udara.

Media milik Hezbollah menambahkan, total ada sembilan misil yang berusaha menghantam pangkalan militer Suriah.

Rinciannya, enam rudal menargetkan pangkalan udara Shayrat. Sedangkan sisanya menyasar pangkalan Al-Dumayr. "Semua misil berhasil dicegat," kata media Hezbollah.

Juru bicara Pentagon menyatakan, Negeri "Paman Sam" tidak melakukan operasi militer di sana. "Tidak ada operasi yang kami atau koalisi lakukan," katanya.

Pernyataan yang sama juga diucapkan oleh juru bicara militer Israel. "Kami tidak perlu berkomentar atas laporan seperti itu," ujarnya.

Pangkalan udara Al Shayrat pernah menjadi target misil Tomahawk milik AS pada April tahun lalu atas komando dari Presiden AS Donald Trump.

Saat itu, Trump memerintahkan pembalasan dugaan penggunaan senjata kimia untuk menaklukkan kota yang dikuasai kelompok pemberontak Khan Sheikhun di Idlib.

Menurut Pentagon, intelijen AS menemukan keberadaan pangkalan sebagai landasan peluncuran untuk dugaan serangan kimia.

Sabtu (14/4/2018), AS dan sekutunya melancarkan serangan ke Suriah sebagai respons atas dugaan penggunaan senjata kimia oleh pasukan Suriah ke wilayah pemberontak di Douma.

Baca juga : Oposisi Tuduh PM Inggris Serang Suriah karena Diperintahkan Trump


Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X