Setelah Ghouta Timur, Pasukan Suriah Diyakini Akan Bergerak ke Selatan - Kompas.com

Setelah Ghouta Timur, Pasukan Suriah Diyakini Akan Bergerak ke Selatan

Kompas.com - 16/04/2018, 14:39 WIB
Foto yang diambil pada 29 Maret 2018 menunjukkan situasi kota Daraa di selatan Suriah. Wilayah Provinsi Daraa diyakini akan menjadi tujuan selanjutnya pasukan rezim Assad setelah membebaskan Ghouta Timur dari pemberontak.AFP/MOHAMAD ABAZEED Foto yang diambil pada 29 Maret 2018 menunjukkan situasi kota Daraa di selatan Suriah. Wilayah Provinsi Daraa diyakini akan menjadi tujuan selanjutnya pasukan rezim Assad setelah membebaskan Ghouta Timur dari pemberontak.

DAMASKUS, KOMPAS.com - Pasukan rezim Suriah telah berhasil menguasai kembali wilayah Ghouta Timur dan membebaskannya dari pemberontak. Untuk langkah selanjutnya, diyakini tentara yang setia pada Presiden Bashar al- Assad akan dikerahkan ke selatan, menuju wilayah Daraa.

Meski masih ada ancaman yang datang dari para pemberontak dan teroris yang menguasai kota Idlib di utara, para analis meyakini prioritas Assad lebih ke provinsi Daraa di selatan, yang menjadi titik awal munculnya pemberontakan pertama kali pada 2011.

Pasukan rezim Suriah pada Sabtu (14/4/2018) mengumumkan telah merebut kembali wilayah Ghouta Timur dari kelompok pemberontak. Dengan demikian Suriah telah kembali menguasai lebih dari 55 persen wilayah negaranya dari pemberontak.

Baca juga: Suriah Klaim Ghouta Timur Sudah Bebas dari Pasukan Pemberontak

"Dengan pembebasan Ghouta Timur berarti telah menghapus ancaman terhadap Damaskus. Setelah Ghouta, kemungkinan pemerintah Suriah akan menuju selatan ke Daraa," kata Bassam Abou Abdallah, kepala Pusat Studi Strategis Damaskus.

Melansir dari AFP, Provinsi Daraa terletak di sebelah selatan Damaskus. Wilayah itu berbatasan dengan Yordania dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Kelompok pemberontak yang didukung AS dan Yordania menguasai hampir tiga perempat wilayah provinsi, termasuk ibu kota Daraa.

Julien Theron, pengajar di Institut Politik Paris mengatakan, rezim Assad telah lama menfokuskan perhatian pada Daraa dan mencoba menerobos wilayah pemberontak untuk mencapai pusat kota.

Wilayah Daraa telah dikuasai kelompok pemberontak sejak 2015. Pendudukan pemberontak di kawasan ini dianggap telah merusak citra rezim karena Daraa yang berbatasan dengan Yordania menjadikannya sumber pemasukan yang penting.

Di masa lalu, perbatasan itu menjadi titik transit utama untuk perdagangan antara Suriah, Yordania dan negara-negara Teluk.

"Dengan merebut kembali perbatasan kota Nasib dengan Yordania akan memberi imbalan pada rezim Suriah yang sedang kekurangan dana," kata Theron.

Namun upaya merebut kembali Daraa juga harus dilakukan dengan penuh pertimbangan karena Suriah tidak akan mau terjadi eskalasi dengan Israel.

"Daerah di selatan Suriah sangat sensitif karena terletak di antara Damaskus di satu sisi dan perbatasan Yordania dan Israel di sisi lain," kata analis Sam Heller.

"Setiap tindakan militer di kawasan itu akan dapat mempengaruhi keamanan nasional dari tiga negara," kata peneliti di Grup Krisis Internasional tersebut.

Baca juga: Serangan Gas Beracun Paksa Pemberontak Suriah Tinggalkan Douma

Kemungkinan Suriah melanjutkan operasi pemberantasan pemberontak ke Daraa juga diungkapkan pakar politik Suriah dari Universitas Edinburgh, Thomas Pierret.

Menurutnya, dibandingkan dengan Idlib yang kompleks dengan berbagai kelompok pemberontak dan teroris yang dapat saling berperang atau bersatu satu sama lain, menjadikan upaya merebut kawasan itu terlalu mahal dan berisiko bagi pasukan Assad saat ini.

"Sedangkan Daraa mungkin lebih mendesak untuk alasan ekonomi dan membuka kembali perdagangan dengan Yordania," ujarnya.


Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X