Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 14/04/2018, 15:20 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat (AS), Perancis, dan Inggris telah menghantam target di Suriah.

Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengatakan, serangan ini dilakukan sekali, dan menyasar fasilitas yang diduga memproduksi senjata kimia di Suriah.

"Sejauh ini, kami belum berencana untuk melakukan serangan tambahan," kata Mattis dikutip dari CNBC pada Jumat (13/4/2018).

Pendapat yang sama disuarakan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford menyebut bahwa gelombang serangan ke Suriah telah berakhir.

Baca juga : Biaya Serangan Pertama AS ke Suriah Setara 30 Km Jalan Tol di Indonesia

Dia berujar, serangan yang dilakukan Sekutu menyasar tiga tempat di Suriah. Pertama adalah Pusat Penelitian dan Studi Ilmu Pengetahuan.

Kemudian target kedua adalah fasilitas penyimpanan senjata kimia di sebelah barat Homs. "Kami menerima informasi di tempat ini, Suriah menyimpan Sarin," kata Dunford.

Kemudian, sasaran ketiga adalah fasilitas penyimpanan senjata kimia lain yang juga berfungsi sebagai markas komando militer.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Inggris Gavin Williamson dilansir BBC via AFP menyebut, misi militer Sekutu ke Suriah menuai kesuksesan.

"Indikasi awal menyebutkan kalau personel kami telah mengurangi kemampuan Suriah dalam memproduksi senjata kimia," beber Williamson yang menambahkan, empat jet tempurnya telah kembali dengan selamat.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan serangan ke Suriah sebagai respon dugaan penggunaan senjata kimia yang disebutnya sebagai sebuah "kejahatan seorang monster".

Senjata kimia jenis gas beracun klorin itu digunakan rezim Bashar al-Assad kepada kelompok pemberontak di Douma, Ghouta Timur.

Akibat serangan klorin tersebut, pada pekan lalu petugas penyelamat di Ghouta menyebut lebih dari 40 warga sipil tewas, dan 11 lainnya mengeluh mengalami gangguan pernapasan.

Baca juga : Negerinya Dihujani Misil, Presiden Assad Tetap Ngantor Seperti Biasa

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber CNBC,AFP
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.