AS dan Perancis Mengaku Punya Bukti Suriah Gunakan Senjata Kimia

Kompas.com - 13/04/2018, 17:58 WIB
Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, menunjukkan foto-foto korban dari dugaan serangan gas beracun di Suriah, pada pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, Rabu (5/4/2017). Sedikitnya 72 orang tewas, termasuk 20 anak-anak akibat serangan senjata kimia tersebut. AFP PHOTO/TIMOTHY A CLARYDuta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, menunjukkan foto-foto korban dari dugaan serangan gas beracun di Suriah, pada pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, Rabu (5/4/2017). Sedikitnya 72 orang tewas, termasuk 20 anak-anak akibat serangan senjata kimia tersebut.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Tanggal operasi militer ke Suriah masih belum ditentukan. Namun, Amerika Serikat ( AS) dan Perancis mengatakan kalau aksi tegas harus dilakukan.

Sebabnya, kedua negara itu mengaku mempunyai bukti bahwa rezim Presiden Bashar al-Assad menggunakan senjata kimia ke kawasan Douma, Ghouta Timur.

Dari Negeri "Paman Sam", pernyataan tersebut diungkapkan oleh Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley, sebagaimana dilansir oleh MSNBC via Politico Kamis (12/4/2018).

"Jelas, kami saat ini mempunyai bukti yang cukup. AS akan bersikap tegas sampai tim penasihat keamanan nasional selesai dengan rumusan opsi," kata Haley.

Baca juga : 10 Kapal Perang dan 2 Kapal Selam AS Berlayar ke Suriah

Tidak jauh berbeda dengan Haley, Presiden Perancis Emmanuel Macron juga mengatakan kalau gas beracun jenis klorin ditemukan di Douma.

"Namun, kami tidak bisa mengatakan kepada Anda jenis bukti yang kami dapatkan," kata Macron kepada TF1 via Washington Post.

Ucapan Macron itu bertolak belakang dengan Desember 2017. Saat itu, dia mendesak agar negara Barat mengedepankan dialog dengan Assad.

"Bagaimanapun, Assad harus bisa memberikan jawaban dugaan kejahatan yang dia perbuat terhadap rakyatnya," tutur presiden 40 tahun tersebut.

Situasi memanas menyusul laporan yang diberikan organisasi kemanusiaan tentang adanya gas beracun klorin ketika Suriah melancarkan serangan udara pekan lalu (6/4/2018).

Akibat serangan tersebut, setidaknya lebih dari 40 warga sipil di Douma tewas, dan 11 orang menjalani perawatan intensif karena mengalami kesulitan bernapas.

Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bakal mempertimbangkan opsi militer jika ternyata ditemukan senjata kimia di Suriah.

Pernyataan Trump kemudian dibalas Rusia dengan mengancam bakal menjatuhkan setiap rudal yang ditembakkan Washington ke Damaskus.

Baca juga : Israel Ancam Bakal Hilangkan Presiden Suriah



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X