Bunuh Warga Etnis Rohingya, 7 Tentara Myanmar Dipenjara 10 Tahun

Kompas.com - 11/04/2018, 09:12 WIB
Foto udara yang diambil pada 27 September 2017 menunjukkan kondisi desa di dekat Maungdaw di utara Rakhine yang terbakar. STR / AFPFoto udara yang diambil pada 27 September 2017 menunjukkan kondisi desa di dekat Maungdaw di utara Rakhine yang terbakar.

YANGON, KOMPAS.com - Sebanyak 7 tentara Myanmar dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun atas tindakan pembunuhan terhadap 10 warga etnis Rohingya pada tahun lalu.

Insiden berdarah di desa Inn Din pada 2 September 2016 merupakan satu-satunya kekejaman yang diakui militer Myanmar dalam operasinya di negara bagian Rakhine.

Akibat aksi militer tersebut, sebanyak 700.000 warga Rohingya melarikan diri melewati perbatasan menuju Bangladesh sejak Agustus tahun lalu.

"Sebanyak empat perwira dicopot dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dengan kerja paksa. Tiga tentara lainnya dicopot dan dihukum 10 tahun penjara dnegan kerja paksa di penjara kriminal" tulis Jenderal Senior Myanmar Min Aung Hlaing, di akun Facebook, Selasa (10/4/2018).

Baca juga : Myanmar Disebut Tak Siap Hadapi Kepulangan Pengungsi Rohingya

Militer juga menangkap dua jurnalis Reuters berkebangsaan Myanmar, Wa Lone (31) dan Kyaw Soe Oo (27) yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan massal terhadap Rohingya di Inn Din. Keduanya kini ditahan sejak Desember tahun lalu.

Mereka melaporkan kesaksian penduduk desa, petugas keamanan, dan saudara dari korban tewas, yang menjelaskan bagaimana pasukan dan penduduk desa yang bukan etnis Rohingya mengeksekusi 10 pria sebelum menguburnya secara massal.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebulan setelah penangkapan mereka, militer merilis pernyataan langka tentang kesalahan sejumlah pasukan keamanannya yang melakukan pembunuhan dan berjanji akan bertindak tegas terhadap pelaku.

Namun, militer Myanmar berulang kali mengklaim, korban tewas yang ditemukan pada September lalu merupakan kelompok teroris.

Sementara itu, pengadilan di Yangon telah mengadakan sidang sejak Januari lalu untuk memutuskan nasib dua jurnalis Reuters yang akan dihukum berdasarkan aturan era kolonial, dengan maksimal hukuman 14 tahun penjara.

Baca juga : Reuters: Jurnalis Kami Ditahan karena Meliput Pembantaian Rohingya

Amnesty International menyebut pembunuhan di Inn Din sebagai fenomena puncak gunung es dan mendesak penyelidikan lebih luas terhadap kekejaman terhadap etnis Rohingya.

Lembaga Dokter Lintas Batas (MSF) memperkirakan ada 6.700 warga Rohingya yang terbunuh dalam bulan pertama operasi militer.

Namun, Myanmar menyangkal tuduhan tersebut dan mengklaim tindakan itu merupakan respons untuk memerangi teroris. Myanmar juga menyalahkan media internasional yang menyebarkan informasi salah dan cenderung memihak Rohingya.



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X