Kompas.com - 08/04/2018, 12:57 WIB

DOUMA, KOMPAS.com - Serangan terbaru militer Suriah yang memukul area pemberontak di Ghouta Timur, Suriah, menyebabkan 70 warga sipil tewas dalam waktu sekitar 24 jam.

Dilansir dari AFP, Sabtu (7/4/2018), sebanyak 11 orang dilaporkan mengalami masalah pernapasan di Douma, daerah kantong terakhir yang dikuasai pemberontak di Ghouta Timur.

Tim penyelamat meyakini pasukan negara yang dipimpin Presiden Bashar Al-Assad itu telah menggunakan gas klorin beracun.

Namun, media pemerintah menyebut laporan tersebut merupakan rekayasa dari para pemberontak.

Baca juga : AD Suriah Temukan Senjata Buatan Israel dan AS di Gudang Milik ISIS

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyatakan serangan pada Jumat (6/4/2018) telah menewaskan 40 warga sipil. Sementara, 30 lainnya, termasuk 8 anak-anak, tewas dalam serangan Sabtu (7/4/2018).

"Pengeboman belum berakhir. Kami bahkan tidak bisa menghitung semua orang yang terluka," kata seorang dokter muda di Douma, Mohammed.

"Ada beberapa orang yang terluka tapi tidak dapat dioperasi tepat waktu, sehingga mereka meninggal," tambahnya.

Rekaman yang dirilis dari pertahanan sipil Suriah atau Helm Putih memperlihatkan para penyelamat menggunakan tangan kosong untuk mengambil reruntuhan rumah yang dibom, sehingga dapat menyelamatkan seorang pemuda yang terperangkap di bawahnya.

Ketika mereka berdiri, para penyelamat menatap ke langit dan mendengar suara pesawat tempur.

Pemerintah Amerika Serikat mengecam keras dugaan penggunaan senjata kimia dalam serangan Sabtu kemarin di Douma.

"Laporan-laporan ini, jika dikonfirmasi, mengerikan dan menuntut tanggapan segera dari masyarakat internasional," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert dalam sebuah pernyataan.

"Rezim Assad dan pendukungnya harus bertanggung jawab dan mencegah serangan lebih lanjut dengan segera," tambahnya.

Baca juga : Trump Setuju Pasukan AS Bertahan di Suriah, tapi...

AS juga menyebut Rusia yang turut mendukung pemerintah Suriah, juga bertanggung jawab atas serangan brutal tersebut.

"Perlindungan Rusia terhadai rezim Assad dan kegagalan untuk menghentikan penggunaan senjata kimia di Suriah, menjadi pertanyaan komitmennya untuk menyeselaikan krisis secara keseluruhan," ucap Nauert.

Suriah telah berulang kali dituduh menggunakan senjata kimia. Sejak 18 Februari 2018, serangan di Ghouta telah menewaskan lebih dari 1.600 orang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.