Protes Kasta di India, 8 Orang Tewas

Kompas.com - 03/04/2018, 13:56 WIB
Warga dari kasta Dalit, kasta terendah di India, melakukan protes setelah Mahkamah Agung India menerbitkan peraturan yang dianggap memberi angin bagi diskriminasi terhadap mereka.AFP via BBC Warga dari kasta Dalit, kasta terendah di India, melakukan protes setelah Mahkamah Agung India menerbitkan peraturan yang dianggap memberi angin bagi diskriminasi terhadap mereka.

NEW DELHI, KOMPAS.com - Kerusuhan dilaporkan pecah di seluruh India menyusul demonstrasi yang dilakukan oleh Dalit, kasta paling bawah di India.

BBC melaporkan Senin (2/4/2018), delapan orang dilaporkan tewas dalam aksi protes yang dilakukan puluhan orang anggota Dalit.

Korban paling banyak terjadi di negara bagian Madhya Pradesh, di mana enam orang dikabarkan tewas.

Layanan internet dihentikan di banyak tempat untuk mencegah protes agar tidak semakin menjalar.


Tentara disebar di beberapa negara bagian yang mempunyai populasi kasta rendah besar, seperti Punjab.

Baca juga : Politisi dari Kasta Terendah Berpeluang Jadi Presiden India

Mereka turun ke jalan, dan memprotes Mahkamah Agung yang dianggap memperlemah undang-undang pencegahan kekerasan terhadap kasta bawah, atau dikenal dengan SC/ST.

Diperkenalkan pada 1989, peraturan itu mengizinkan terduga pelaku kekerasan pada kasta bawah untuk langsung ditahan dengan sedikit kemungkinan dia bebas menggunakan jaminan.

Selain itu, undang-undang tersebut juga memperbolehkan publik untuk menuntut polisi yang dianggap lalai menjalankan tugasnya.

Sebabnya, orang dari kasta bawah seperti Shudra atau Dalit sering mengeluhkan polisi tidak mau memproses laporan mereka jika pelaku berasal dari kasta yang sama dengan polisi tersebut.

Apalagi, sepanjang 2016, Amnesti Internasional mencatat lebih dari 40.000 kasus kejahatan yang menyasar orang dari kasta rendah.

Namun, oleh Mahkamah Agung, aturan SC/ST kemudian mengalami perubahan. Sebabnya, dalam laporan mereka, 15 persen laporan di 2015 merupakan laporan palsu.

Karena itu, Mahkamah Agung menerbitkan keputusan, dan menghapus pasal tentang penahanan otomatis.

Selain itu, polisi juga diwajibkan melakukan penyelidikan selama tujuh hari sebelum melakukan tindakan terhadap terduga pelaku kekerasan.

KP Choudhary, sekretaris jenderal organisasi kasta bawah India mengaku syok dengan keputusan Mahkamah Agung tersebut.

Choudhary berkata, Peraturan SC/ST diberlakukan untuk menjamin segala tindakan kekerasan terhadap kasta bawah bisa langsung dihukum.

"Kini, dengan keputusan Mahkamah Agung, segala kewajiban legal ini telah berakhir. Kami semua jelas sangat sedih," beber Choudhary.

Pemerintah federal, seperti diwartakan BBC, telah meminta Mahkamah Agung untuk meninjau kembali keputusannya.

Baca juga : Terkait Pemilu, MA India Larang Politisi Usung Isu Agama dan Kasta

Mengapa Dalit Harus Dilindungi?
Penduduk yang berasal dari kasta Dalit, atau Paria, berjumlah 200 juta dari total 1,2 miliar penduduk India.

Secara tradisional, mereka dipisahkan dari empat kasta lainnya; Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Shudra.

Mereka tidak diizinkan berada di kuil, sekolah, bahkan tempat makan yang sama dengan kasta di atasnya.

Baca juga : Wanita Hamil dari Kasta Rendah India Diserang karena Tolak Singkirkan Bangkai Sapi

Warga Dalit tidak mengenyam pendidikan cukup, tidak mempunyai akses terhadap pekerjaan layak, dan sering menjadi korban pelecehan serta kekerasan.

Pekan lalu, seorang pemuda Dalit tewas disiksa di Gujarat, hanya karena dia mempunyai dan menaiki kuda, di mana kuda adalah "hak orang kasta atas".

Oktober 2017, seorang pria yang berasal dari kasta Dalit dibunuh oleh sekelompok orang tak dikenal hanya karena dia datang ke pertunjukan tari tradisional Hindu.

Mulai banyaknya generasi muda Dalit yang peduli akan isu diskriminasi kasta telah meningkatkan taraf kesejahteraan mereka.

Namun, kondisi tersebut tidak bisa diterima oleh golongan konservatif. Karena itu, kekerasan juga dilaporkan makin meningkat.

"Konflik meningkat ketika kesejahteraan warga Dalit juga semakin membaik," kata Pratap Bhanu Meht, wakil penasihat Universitas Ashoka.

Baca juga : Nikahi Pria Beda Kasta, Perempuan Ini Dibakar Kakak Kandungnya

Halaman:


Terkini Lainnya


Close Ads X