China Versus AS: Perang Ideologi Jilid 2 - Kompas.com

China Versus AS: Perang Ideologi Jilid 2

Kompas.com - 02/04/2018, 17:48 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Balai Agung Rakyat China di Beijing, Kamis (9/11/2017). (AFP/Jim Watson) Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Balai Agung Rakyat China di Beijing, Kamis (9/11/2017). (AFP/Jim Watson)

PADA 11 Maret lalu, parlemen China telah menghapuskan batas dua periode masa jabatan presiden. Hal ini membuka jalan kepada Xi Jinping untuk menjadi presiden seumur hidup. Kesempatan itu hanya pernah terjadi pada pemerintahan Mao Zedong.

Jika Xi benar-benar akan menjadi presiden seumur hidup, maka visi diseminasi sosialisme ala China yang diungkapkan Xi pada Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis China akan terus digencarkan penyelenggaranya.

Hal ini jelas akan menggiring sosialisme ala China berhadapan dengan kapitalisme ala barat. Dengan demikian, perang ideologi bukan tidak mungkin akan terjadi di mana fondasinya telah jelas terlihat.

Pada umumnya, perang ideologi diasosiasikan dengan eksistensi perang dingin setelah berakhirnya perang dunia kedua. Perang tersebut dapat dikatakan sebagai kompetisi antara Washington dan Moskwa.

Pada 1990-an, konstelasi ide-ide komunis Moskwa dan kapitalis Washington dalam percaturan politik internasional berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet yang bertransformasi menjadi Rusia.

Dengan runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat berdiri pada tahta kepemimpinan dunia. Ia merupakan kekuatan paling adidaya di muka bumi. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas aktif dari Washington mengenai konflik-konflik dunia.

Selain itu, banyak negara yang dulu merupakan "pengikut" dari cita-cita komunis beralih pandagan pada sistem kapitalis-demokrat barat.

Para negarawan tersebut menganggap kapitalis-demokrat barat bukanlah suatu sistem terbaik, melainkan sistem yang telah terbukti lebih berhasil bila disandingkan dengan sistem komunis yang dahulu mereka gunakan.

Namun demikian, dekade kedua di tahun milenium merepresentasikan gerak sejarah baru di mana Negeri Naga mampu bersaing ketat dengan Paman Sam.

Negeri Naga China adalah negeri yang menempatkan ide komunisme dalam sistem politik. Pada pemerintahan Mao Zedong, China mampu membuktikan kemampuannya dalam merekonstruksi negaranya dengan sistem komunis.

Namun kemudian, pada 1966-1976, China berada pade fase krusial di mana cultural revolution membawa dampak negatif bagi banyak masyarakat China.

Deng Xiaoping, suksesor Mao, membuka arah baru dalam sejarah China. Deng melakukan reformasi ekonomi dan politik internasional. China kemudian berjabat tangan dengan banyak negara yang dahulunya merupakan lawan politik.

Dalam hal ini, ASEAN pun menjadi perhatian Deng Xiaoping. Pada 1978, ia mengadakan safari politik ke tiga negara pendiri ASEAN, yakni Malaysia, Singapura, dan Thailand, untuk merestorasi hubungan buruk yang telah tertanam di ASEAN.

Kebijakan buka pintu oleh China berbuah manis di mana hal tersebut mampu mereparasi ekonomi China.

Pada tahun 2000-an, China menunjukkan potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia. Hal ini tentunya disambut dengan rasa waswas oleh kalangan barat, terutama Amerika.

Paman Sam mengkhawatirkan jika China akan menjadi kompetitor Amerika dalam banyak hal. Namun demikian, untuk meyakinkan dan menjaga persahabatan baik dengan Amerika, China melontarkan bahwa kemajuan yang dialaminya adalah perkembangan dunia yang tidak perlu ditakutkan.

China menegaskan bahwa kemajuan ini sebagai kebangkitan yang damai (peaceful rise) yang tidak akan menganggu struktur-struktur dasar politik internasional yang telah terjalin. Hal ini tentunya disambut baik dan gembira oleh barat dimana China memang menunjukkan komitmen terhadap perkataannya.

Memasuki era kepemimpinan Xi Jinping, China tidaklah berbeda. China terus tumbuh menjadi salah satu aktor terpenting di politik dunia. Dengan kemajuan pesat yang dialaminya, China terus membangun negeri dengan memperluas dan memperdalam kebijakan luar negeri.

Perumusan kebijakan OBOR (One Belt One Road Iniative) adalah satu bukti bahwa China menaruh perhatian besar kepada kebijakan luar negerinya dengan memberikan bantuan pembangunan infrastruktur global.

Baru-baru ini, Xi menyatakan bahwa model pemerintahan Republik Rakyat China layak diadopsi oleh negara-negara lain karena telah terbukti efektif dalam pembangunan negeri dengan populasi ribuan juta jiwa.

Dilaporkan oleh Quartz News, pemerintah China dimulai dari tahun 2014 telah mengadakan pertemuan tahunan yang mengundang para pemimpin politik dunia. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membeberkan tentang model pemerintahan dan pembangunan China.

Selanjutnya, Quartz menjelaskan bahwa dalam rangka memperkuat hubungan dengan Afrika, China juga telah mengundang para politisi muda Afrika untuk diberi pelatihan-pelatihan. Hal ini jelas mengindikasikan tentang keinginan China untuk menjadi pusat ide dalam pembangunan masyarakat dunia.

Selain itu, hal tersebut juga menjadi bukti bahwa terdapat keinginan oleh China untuk "menjual" ide dan sistem pemerintahan dan pembangunan China ke dunia luar.

Mengenai tujuan dari hal ini, adalah hal yang mungkin jika China ingin memperkuat pengaruhnya terhadap masyarakat dunia layaknya apa yang telah Amerika dan negara-negara besar lainnya telah lakukan.

Secara tidak langsung, hal ini mengindikasikan kemungkinan akan terjadinya kembali kompetisi ideologi yang telah terjadi pada masa perang dingin. Bedanya, China akan menjadi aktor sentral mengganti Uni Soviet (Rusia) sebagai kompetitor utama Amerika.

Bila dikomparasikan dengan Perang Dingin, kebijakan obor China dapat dikatakan sebagai aid diplomacy yang masif dilakukan pada masa Perang Dingin. Kebijakan Obor China dapat disandingkan dengan kebijakan Marshall Plan Amerika dan Molotov Plan Uni Soviet. Namun demikian, kita harus tetap memperhatikan pola-pola yang akan terjadi.

Apa yang menjadi kebenaran pada masa sekarang adalah China telah mengalami banyak kemajuan dalam bidang diplomasi dunia tak terkecuali di Afrika.

Rex Tillerson, diplomat Amerika, baru saja melakukan kunjungannya ke Afrika. Ia melihat China telah menjadi rekan baik oleh banyak negara Afrika.

Dalam pesannya di Ethiopia, Tillerson mengingatkan agar negeri-negeri Afrika berhati-hati dalam berhubungan dengan China. Namun demikian, suara dari politisi Afrika lebih memilih China karena sikap Amerika yang tak layak kepada Afrika.

Terlepas dari hal itu, perisitiwa ini telah membuktikan bahwa tidak hanya perang perdagangan Washingtong-Beijing yang terjadi, namun kompetisi ideologi Washington-Beijing telah terjadi dan akan masih menyajikan konstelasi politik internasional yang menarik untuk dikaji.

Khairil Ramadhani
Chulalongkorn University
Permitha Thailand (ppidunia.org)


Komentar

Close Ads X