Kompas.com - 30/03/2018, 12:13 WIB

KOMPAS.com - Mempelajari dan meneliti gorila secara dekat dan akrab mungkin tidak pernah dipikirkan sebelumnya oleh Dian Fossey.

Dia memiliki obsesi untuk menyelamatkan para gorila gunung di Rwanda, yang habitatnya terus hancur oleh ulah manusia.

Untuk semakin dekat dengan primata besar itu, Dian mencurahkan seluruh hidupnya untuk tinggal bersama mereka.

Hingga pada akhirnya, kematian Dian yang tragis justru mengawali langkah kesuksesan konservasi di masa depan.

Awal kehidupan

Dian Fossey lahir di San Francisco, California, pada 1932. Orangtuanya bercerai ketika dia masih muda, sehingga dia tumbuh bersama dengan ibu dan ayah tirinya.

Sejak kecil, dia sangat tertarik pada hewan. Dia menjadi penunggang kuda di usia muda. Cita-citanya kala itu adalah menjadi seorang dokter hewan.

Setelah mendaftar di Universitas California, dia dipindahkan ke San Jose State College, dan mengubah jurusannya ke terapi okupasi.

Baca juga : Biografi Tokoh Dunia: Harriet Tubman, Pembebas Perbudakan

Lulus dari San Jose pada 1954, Fossey menghabiskan beberapa bulan bekerja sebagai karyawan magang di rumah sakit, di California.

Kemudian dia pindah ke Louisville, Kentucky, sebagai direktur departemen terapi okupasi RS Anak Kosair.

Tinggal di sebuah peternakan di pinggiran Louisville, Dian menghabiskan banyak waktu merawat ternak. Tapi, dia rindu melihat bagian dunia lain dan mengarahkan pandanganya ke benua Afrika.

Dian Fossey mendirikan perkemahan. (Dian Fossey Gorilla Fund International/gorillafund.org) Dian Fossey mendirikan perkemahan. (Dian Fossey Gorilla Fund International/gorillafund.org)
Perjalanan ke Afrika

Beberapa tahun bekerja di rumah sakit, Dian menandai kunjungan pertamanya ke Afrika bagian timur pada 1963. Dengan mengucurkan seluruh uang tabungannya, dia berkunjung ke Kenya, Tanzania, Kongo, dan Zimbabwe.

Di Tanzania, dia bertemu dengan antropolog Louis Leakey, dan melihat secara sekilas gorila gunung.

Pada 1966, Leakey membujuknya untuk kembali ke Afrika untuk mempelajari kehidupan gorila gunung di habitat aslinya dalam jangka panjang.

Setahun kemudian, dia mendirikan Pusat Penelitian Karisoke dan memulai "pertapaannya" di Pegunungan Virunga, Rwanda, yang merupakan salah satu benteng terakhir gorila gunung yang terancam punah.

Baca juga : Biografi Tokoh Dunia: Dwight D Eisenhower, Presiden AS ke-34

Sejumlah tantangan harus dihadapi Dian ketika mendirikan kamp di Karisoke. Setelah kepergian temannya, Alyette, dia tidak lagi memiliki penerjemah.

Namun, dia bangkit dengan berbicara kepada warga lokal menggunakan bantuan gerakan tangan dan ekspresi wajah.

Tantangan selanjutnya, dia harus mengatasi sifat pemalu gorila dan ketakutan alami mereka terhadap manusia untuk makin dekat dengan hewan besar itu.

Dia mulai mengamati hewan dan membiasakan mereka dengan kehadirannya. Data yang dia kumpulkan telah memperluas pengetahuan kontemporer tentang kebiasaan gorila, komunikasi, dan struktur sosialnya.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.