Menhan AS: Taliban Siap Bahas Perdamaian dengan Pemerintah Afghanistan - Kompas.com

Menhan AS: Taliban Siap Bahas Perdamaian dengan Pemerintah Afghanistan

Kompas.com - 13/03/2018, 14:58 WIB
Menteri Pertahanan Amerika Jim Mattis di Washington DC, AS, 6 Februari 2018. (AFP/Mark Wilson) Menteri Pertahanan Amerika Jim Mattis di Washington DC, AS, 6 Februari 2018. (AFP/Mark Wilson)

KABUL, KOMPAS.com - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Jim Mattis mengklaim kelompok Taliban terbuka untuk mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Afghanistan.

Pernyataan tersebut dilontarkan Mattis di Kabul, Afghanistan, dalam sebuah kunjungan yang tidak diumumkan sebelumnya, Selasa (13/3/2018).

AFP melaporkan, Mattis tiba di Kabul dua pekan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengungkapkan rencana untuk memulai pembicaraan damai dengan Taliban.

Kelompok Taliban sejauh ini belum memberikan respons formal terkait tawaran negosiasi dari pemerintah.


Baca juga : Presiden Afghanistan Tawarkan Perdamaian kepada Taliban Lewat Ini

Namun, Mattis mengatakan beberapa pemimpin kelompok pemberontak tersebut telah menyatakan ketertarikannya untuk berdiskusi.

"Mungkin tidak semua Taliban akan menerima dalam sekali waktu, itu terlalu jauh, tapi ada beberapa elemen Taliban yang tertarik untuk berbicara dnegan pemerintah Afghanistan," katanya.

Pemerintah Afghanistan merencanakan perdamaian dengan mengakui Taliban sebagai partai politik.

Kelompok tersebut menyatakan siap untuk bernegosiasi, namun hanya dengan AS dan bukan dengan pemerintah Afghanistan.

Pekan lalu, Taliban menyebutkan, pemerintah Afghanistan sebagai pemerintahan tidak sah dan upaya perdamaian merupakan bagian dari tipu daya.

"Saat ini, kami ingin Afghanistan untuk memimpin dan memberikan substansi upaya rekonsiliasi," ucap Mattis.

Baca juga : Taliban Kuasai Pusat Distrik di Wilayah Afghanistan Barat

Setelah berkonflik dengan Taliban selama 16 tahun, pasukan AS kini sedang menuju kemenangan.

"Seperti apa kemenangan? itu adalah negara yang memiliki rakyat dan pasukan keamanan untuk menegakkan hukum dan menangani ancaman," katanya.

"Semua bekerja untuk mencapai rekonsiliasi politik, bukan kemenangan militer. Kemenangan akan menjadi rekonsiliasi politik," tambahnya.

Sebagai bagian dari strategi Asia Selatan, Presiden AS Donald Trump memerintah peningkatan serangan bom terhadap Taliban, termasuk laboratorium pembuatan obat terlarang dan kamp pelatihan.

Baca juga : Penasihat Militer Taliban Asal Jerman Ditangkap Tentara Afghanistan

Lebih dari 3.000 pasukan tambahan dari AS telah ditempatkan ke Afghansitan untuk meningkatkan pelatihan pasukan lokal.

Hingga kini, sekitar 14.000 pasukan AS telah berada di Afghansitan, meningkat sekitar 8.500 sejak Barack Obama meninggalkan Gedung Putih.



Close Ads X