Ketidaktentuan Pemilu, Ketakutan, dan Kebencian di Malaysia - Kompas.com

Ketidaktentuan Pemilu, Ketakutan, dan Kebencian di Malaysia

Kompas.com - 09/03/2018, 19:42 WIB
Perdana Menteri Malaysia Najib Razak (tengah) saat kongres tahunan United Malays National Organisation (UMNO) di Kuala Lumpur 7 Desember 2017. AFP PHOTO / MANAN VATSYAYANA Perdana Menteri Malaysia Najib Razak (tengah) saat kongres tahunan United Malays National Organisation (UMNO) di Kuala Lumpur 7 Desember 2017.

 

Hari Raya Imlek telah datang dan berlalu. Pemilihan Umum ( Pemilu) Malaysia ke-14 kemungkinan akan berlangsung pada akhir Maret 2018.

Umumnya di kebanyakan negara, Anda bisa membaca dari koran dan melihat dari TV untuk mengetahui sentimen opini publik terhadap agenda politik itu. Tetapi hal itu tidak akan Anda temukan di Malaysia.

Dengan segala bentuk pembatasan dalam berekspresi yang diterapkan Pemerintah Malaysia, termasuk dalam hal memerangi “berita palsu” atau haoks, mencoba untuk memahami apa yang dirasakan rakyat tidaklah mudah.

Bahkan media online pun terbungkam seiring dengan meningkatnya ancaman hukum. Dengan tidak adanya lembaga survei dan media yang netral, pengamat politik pun harus lebih jeli dalam melihat petunjuk atau tanda dari sisi-sisi yang tidak terduga.

Baca juga : Polri Akan Gelar Perkara untuk Tetapkan Nahkoda Kapal Equanimity Tersangka

Lihatlah atraksi elektronik yang rusak dari bendera Malaysia yang menghiasi gedung UMNO setinggi 40 lantai di Kuala Lumpur.

Pertujukan cahaya yang menyimpang dalam bendera Malaysia ?Jalur Gemilang? di Kantor Pusat UMNO.Ceritalah ASEAN Pertujukan cahaya yang menyimpang dalam bendera Malaysia ?Jalur Gemilang? di Kantor Pusat UMNO.
Terlepas dari adanya masalah teknis yang menyebabkan "Jalur Gemilang" terlihat seperti buku mewarnai anak-anak, pimpinan partai tampaknya tidak dapat diganggu untuk sekadar memperbaiki atau mengatur ulang tampilan layar LED itu.

Hal ini menunjukkan kepada saya bahwa para pemimpin UMNO yakin rakyat Malaysia benar-benar apatis, dan koalisi Barisan Nasional (BN) yang dipimpinnya memang ditakdirkan untuk menang.

Ketika markas dari partai yang berkuasa mengeluarkan pesan semacam itu, tidak mengherankan jika muncul pemikiran yang sama tentang “kecerobohan” dan “lepas tangan” yang masuk ke pikiran masyarakat Malaysia.

Tentu saja, Perdana Menteri sedang sibuk mempromosikan pemerintahannya sebaik mungkin.

Menariknya, saat harga pangan dalam negeri mengalami kenaikan yang mengejutkan secara berkala—dalam wawancaranya dengan BFM Radio, konglomerat retail Dr Ameer Mydin mengungkapkan bahan pokok sehari-hari yang naik tajam adalah ikan makarel India naik 19,5 persen, cabai cameron naik 29 persen, dan saus cabai Maggi naik 38,8 persen--namun Perdana Menteri memilih untuk menjelaskan tentang anggaran nasional melalui media sosial, dan dia memberikan nasihat untuk kalangan muda ihwal cara menggunakan uang yang baik.

Pada sesi yang sama ketika dirinya ditanya oleh moderator tentang berapa harga makanan di restoran murah 24 jam, Najib membual bahwa dirinya memakan quinoa, bukan nasi. Harga 250g quinoa sekitar 15 ringgit Malaysia atau sekitar 23 kali lebih mahal dari harga nasi.

Harga quinoa kira kira 23 kali lebih mahal daripada beras.Wikimedia Commons Harga quinoa kira kira 23 kali lebih mahal daripada beras.
Sementara PM sedang berusaha untuk menggaet generasi milenial, referensi “quinoa” justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dalam menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait tingginya biaya hidup.

Di sisi lain, seorang taipan gula hingga hotel keturunan China-Malaysia, Robert Kuok telah menerima berbagai macam penghinaan yang menggelikan--termasuk isu yang menyebutkan dirinya telah mendanai kelompok oposisi--yang berpuncak pada tantangan aneh bahwa peserta Pemilu yang berusia hampir 94 tahun harus mengikuti Pemilu Malaysia.

Sementara itu, sebuah kapal pesiar yang diduga terkait dengan skandal korupsi 1Malaysia Development Berhad (1MDB), baru-baru ini berhasil ditangkap oleh aparat hukum Indonesia. Kasus ini bahkan telah menjadi berita utama di semua media kecuali media mainstream di Malaysia.

Kita memang sedang hidup dalam sebuah era yang absurd.

Baca juga : Penyidik Dituduh Curi 1 Miliar Ringgit di Kapal Equanimity, Ini Kata Kabareskrim

Pada satu sisi, Malaysia memiliki seorang mantan Perdana Menteri yang telah berusia di atas 90 tahun, Dr. Mahathir Mohamad. Dia adalah sosok di balik penangkapan dan dipenjarakannya sejumlah pembangkang pada 1980-an, dan saat ini dirinya memimpin Partai Oposisi Pakatan Harapan (PH).

Di sisi lain, Malaysia juga memiliki Perdana Menteri yang lahir dari sistem yang telah dibangun oleh Mahathir selama dua dekade.

Tidak diragukan lagi bahwa atmosfir politik saat ini telah menghadirkan berbagai kekecewaan dari segala sisi.

Gambar ini diambil pada 8 Maret 2018 menunjukkan mantan Perdana Menteri Malaysia  yang juga kandidat calon Perdana Menteri dari oposisi, Mahathir Mohamad (tengah) membawa 200 halaman manisfesto pemilu oleh 4 partai koalisi dalam Pakatan Harapan di Shah Alam.AFP PHOTO/MOHD RASFAN Gambar ini diambil pada 8 Maret 2018 menunjukkan mantan Perdana Menteri Malaysia yang juga kandidat calon Perdana Menteri dari oposisi, Mahathir Mohamad (tengah) membawa 200 halaman manisfesto pemilu oleh 4 partai koalisi dalam Pakatan Harapan di Shah Alam.
Sekelompok pemuda yang diduga kecewa telah membuat gerakan #UndiRosak untuk menolak apa yang mereka anggap sebagai "pilihan di antara kejahatan yang lebih rendah" dan mengkampanyekan agar para pemilih “merusak” kertas suara.

Mereka merasa telah dikecewakan oleh sistem yang saya sebut, defisit optimisme. Banyaknya janji yang tidak dipenuhi telah memupuskan harapan masyarakat Malaysia.

Baca juga : Malaysia yang Kini Defisit Optimisme

Ini pun tidak membantu bahwa tidak ada tokoh politik yang dapat memecah dan mengganggu kedua pihak yang berseteru.


Tidak Emmanuel Macron, tidak juga Rodrigo Duterte
 

Tampaknya, pilihan yang dihadapi rakyat Malaysia dalam Pemilu ke-14 ini adalah antara inkrementalisme atau kembali ke masa lalu yang otoriter.

Ini adalah narasi yang cenderung mengubah suara pemilih dan menekan jumlah suara dalam bilik suara, sesuatu yang dirasakan semua analis akan menguntungkan petahana.

Meskipun BN menjanjikan kontinuitas ekonomi yang besar, namun hal-hal di lapangan ternyata tidak seindah yang didengar. Sementara orang Malaysia terus dibombardir dengan berita tentang tokoh-tokoh besarnya dan proyek infrastruktur jalur pipa–kesejahteraan yang sesungguhnya malah tidak tampak.

Hal ini dikuatkan oleh survei Merdeka Center baru-baru ini yang menunjukkan bahwa responden tidak merasa kondisi ekonomi telah membaik, ataupun negara telah menuju ke arah yang benar.

Buruknya lagi, janji Najib soal reformasi politik terhenti di tengah jalan. Pertarungan antara perbedaan pendapat politik tetap marak–ini bisa dilihat dari politisi kelompok oposisi, Rafizi Ramli, yang menghadapi hukuman penjara karena telah melaporkan adanya pelanggaran dalam 1MDB.

John SAEKI, Laurence CHU / AFP Infografik soal Skandal 1MDB
Bahkan, rakyat Malaysia menyadari BN sama sekali tidak akan melakukan reformasi politik setelah Pemilu.

Tentunya, upaya Perdana Menteri yang mulai merangkul partai Islamis PAS (yang menolak untuk bergabung dengan PH, yang dipimpin Mahathir) menunjukkan bahwa regulasi ke depannya akan lebih konservatif seiring dengan kekuatan yang mulai didapat dari para ulama (akademisi/sarjana religius)

Sebuah ancaman telah terjadi, stagnasi ekonomi dan polarisasi sosio-politik yang nyata mulai tampak di kehidupan masyarakat Malaysia.

Di masa lalu, mobiltias sosial dan kemakmuran telah disalahgunakan oleh sekelompok kalangan elit.

Namun saat ini, dengan kondisi para pemberi suara yang tidak sejahtera dan sudah bosan dengan wajah politik lama yang selalu sama, membuat tidak adanya tanda-tanda bahwa Malaysia akan menjadi negara yang tidak terpecah.

Singkatnya, ini adalah masalah yang harus dihadapi sekarang atau tidak sama sekali. Transisi semalam dengan janji untuk reformasi, atau status quo.

Sementara itu, mesin PH sedang bergerak penuh dengan Mahathir yang tetap bekerja keras untuk berkampanye, terlepas dari masalah kesehatan yang dialami dirinya baru-baru ini. Kebijaksanaan konvensional menunjukkan bahwa oposisi yang terpecah akan mengarah pada kehancuran BN.

Meski begitu, seperti yang “Tukang Cerita” ini pelajari dari peristiwa Brexit dan Trump, segala kemungkinan dapat terjadi.

Apakah rakyat Malaysia memilih aspirasi–-menjadi naif--untuk sesuatu yang lebih baik? Atau mengarah ke sesuatu yang sudah biasanya?

Di masa lalu, rakyat Malaysia cenderung memilih bertahan dengan segala uji coba. Dalam kasus ini, ketika kita memahami para “pemain politik” maka "keajaiban" dalam Pemilu mungkin mengarahkan kita kepada sebuah peristiwa besar yang tidak diketahui.


Komentar
Close Ads X