Kematian TKI Adelina, Sebuah Kegagalan Melindungi Pekerja Rumah Tangga - Kompas.com

Kematian TKI Adelina, Sebuah Kegagalan Melindungi Pekerja Rumah Tangga

Kompas.com - 25/02/2018, 14:13 WIB
Adelina Lisao tidur di beranda rumah di Taman Kota Permai, Penang, Malaysia, ketika ditemukan Sabtu (10/2/2018). TKI asal Nusa Tenggara Timur itu ditemukan dengan berbagai luka di wajah dan kepala. Perempuan 21 tahun itu meninggal dunia sehari berselang (11/2/2018).Steven Sim/The Malay Online Adelina Lisao tidur di beranda rumah di Taman Kota Permai, Penang, Malaysia, ketika ditemukan Sabtu (10/2/2018). TKI asal Nusa Tenggara Timur itu ditemukan dengan berbagai luka di wajah dan kepala. Perempuan 21 tahun itu meninggal dunia sehari berselang (11/2/2018).


KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Pergi ke Malaysia untuk mencari kehidupan yang lebih baik, malah dipaksa tidur di luar bersama seekor anjing, sebelum akhirnya meninggal akibat luka serius.

Kasus kekerasan ini menimpa seorang tenaga kerja Indonesia, seakan menyoroti kembali kegagalan pemerintah untuk melindungi pekerja rumah tangga.

Adelina Sau meninggal pada awal bulan ini di rumah sakit, sehari setelah diselamatkan dari rumah majikannya di Penang, Malaysia. Saat itu, luka-luka terlihat menutupi tubuhnya yang lemah.

Majikan Adelina berusia 60 tahun telah didakwa dengan upaya pembunuhan pada pekan ini. Sementara, di Indonesia, dua orang telah ditangkap atas tuduhan perdagangan manusia.

Mereka diduga menggunakan dokumen palsu untuk mengirim Adelina ke Malaysia.

Baca juga : Majikan TKI Adelina Terancam Hukuman Mati

AFP melaporkan sekitar 2,5 juta TKI bekerja di Malaysia, banyak yang merantau dengan cara ilegal di berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga konstruksi.

Sekitar 400.000 TKI perempuan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia.

Kematian Adelina memicu kemarahan yang meluas. Pemerintah juga mempertimbangkan untuk mengajukan kembali larangan pengiriman pekerja rumah tangga ke Malaysia.

Terakhir, Indonesia melarang pengiriman pembantu rumah tanggap pada 2009, setelah serangkaian kasus yang mengejutkan.

Dua tahun kemudian, negosiasi panjang menghasilkan kesepakatan yang berjanji untuk memberi kondisi yang lebih baik kepada pekerja rumah tangga.

Namun, pelecehan dan eksploitasi masih sering dilaporkan. Direktur eksekutif Tenaganita, kelompok HAM di Malaysia, Glorene Das mengatakan, kasus Adelina merupakan wujud dari ketidakpedulian terhadap martabat hak pekerja migran secara umum.

"Juga ketidakpedulian terhadap hak pekerja rumah tangga migran pada khususnya," katanya.

Baca juga : Warga NTT Gelar 1.000 Lilin untuk TKI Adelina Sau

Di Malaysia, pekerja rumah tangga memperoleh penghasilan sekitar 1.000 ringgit atau Rp 3,4 juta per bulan, jauh lebih rendah daripada di Hong Kong dan Singapura.

Serangkaian kasus kekerasan terhadap pekerja migran pernah terjadi di Malaysia sebelumnya dan negara di Asia lainnya.

Pada 2014, pasangan di Malaysia dijatuhi hukuman penjara karena membiarkan asisten rumah tangganya asal Indonesia mati kelaparan. Isti Komariyah meninggal dengan berat badan hanya 26 kg.

TKI bernama Erwiana Sulistyaningsih bekerja di Hong Kong juga dipukuli dan dibiarkan kelaparan oleh majikannya.

Joanna Demafelis ditemukan tewas dan mayatnya disimpan di lemari pendingin di rumah majikannya, di Kuwait. (Facebook/Joanna Demafelis via CNN) Joanna Demafelis ditemukan tewas dan mayatnya disimpan di lemari pendingin di rumah majikannya, di Kuwait. (Facebook/Joanna Demafelis via CNN)

Baru-baru ini, pekerja asal Filipina di Kuwait, Joanna Demafelis, ditemukan tewas dan jenazahnya dimasukkan ke dalam lemari es. Pemerintah Filipina memberlakukan larangan keberangkatan pekerja ke negara tersebut.

Kekacauan dan korupsi

Selain masalah perlindungan hukum terhadap pekerja migran di Malaysia, masalah yang sama buruknya juga terjadi di Indonesia.

Pihak berwenang dianggap gagal melindungi perempuan miskin dari perdagangan ilegal ke luar negeri.

Direktur Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan, ada kekacauan dalam proses perekrutan.

"Ada kecenderungan untuk memalsukan dokumen agar mempercepat proses dan mengabaikan peraturan tentang batasan usia," katanya kepada AFP.

Pekerja rumah tangga secara hukum setidaknya berusia 21 tahun untuk dapat bekerja di luar negeri, namun kenyataannya banyak yang lebih muda.

Baca juga : Joanna, Tenaga Kerja Filipina yang Bernasib seperti TKI Adelina

Adelina berasal dari desa terpencil di Nusa Tenggara Timur. Dia diyakini masih berumur 19 tahun ketika meninggal. Keluarganya mengklaim seorang rekrutmen memalsukan dokumen agar usia Adelina  tertulis lebih tua 6 tahun.

Susilo menambahkan, hanya ada sedikit pengawasan perekrutan di desa-desa miskin, seperti tempat Adelina berasal. Selain itu, pejabat yang korup terkadang terlibat dalam pengiriman TKI ilegal ke luar negeri.

Aktivis menuduh pemerintah kedua negara telah gagal menanggapi isu kekerasan dan TKI ilegal dengan serius.

Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi meminta kesepakatan baru untuk menggantikan kesepakatan pada 2011 tentang perekrutan dan penempatan pekerja domestik Indonesia di Malaysia.

Baca juga : Kronologi Tewasnya TKI Adelina di Malaysia

Ada 11 butir kesepakatan pada 2011, di antaranya, hari libur bagi TKI, gaji sesuai dengan mekanisme pasar, pelatihan kompetensi kerja, dan pelaksaan perekrutan langsung akan tunduk pada hukum dan peraturan nasional pemerintah Indonesia.

"Kami prihatin dengan kesejahteraan pembantu rumah tangga dari Indonesia," kata Hamidi.


Komentar

Close Ads X