Kompas.com - 23/02/2018, 11:25 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Asosiasi Senapan Amerika Serikat (NRA) memberi solusi agar setiap warga bisa membeli senjata sebagai mekanisme pertahanan diri.

Solusi tersebut diberikan setelah terjadinya penembakan massal di SMA Marjory Stoneman Douglas, Florida, Rabu (14/2/2018).

Wakil Ketua NRA Wayne LaPierre mengkritik masyarakat yang menginginkan adanya aturan pembatasan senjata api.

Seperti dikutip AFP, Jumat (23/2/2018), LaPierre menyebut desakan itu sebagai "politisasi tragedi yang memalukan".

"Mereka membenci NRA. Mereka membenci Amandemen Kedua. Mereka membenci kebebasan orang lain," kecam LaPierre.

Baca juga: Ketika Trump Mendengarkan Curhat Orangtua Korban Penembakan di Sekolah

"Untuk menghentikan orang jahat bersenjata, dibutuhkan orang baik yang juga bersenjata," lanjut LaPierre kembali.

Presiden AS Donald Trump juga mendukung ucapan LaPierre dalam sesi dengar pendapat kedua di Gedung Putih, Kamis (22/2/2018).

Dalam pertemuan itu, Trump mengatakan, dirinya mempunyai keinginan menyebarkan lebih banyak senjata di sekolah.

Antara lain dengan menawarkan senjata kepada guru. Namun, dia menyangkal bakal meminta seluruh guru membeli senjata api.

Dalam kicauannya di Twitter, seperti dilansir Sky News, Trump berkata bahwa senjata bakal digunakan guru yang mempunyai kemahiran.

Baik itu pernah mengambil pelatihan menembak maupun bergabung dengan kesatuan tentara ataupun polisi.

"Saya tidak pernah berkata, 'Berikan semua guru senjata.' Peredaran senjata yang bebas di sekolah bakal menjadi magnet bagi orang jahat," kata Trump.


Selain itu, dia juga menaikkan batas usia warga bisa membeli senjata. Jika sebelumnya 18 tahun, seseorang bisa mendapatkan secara legal jika mencapai umur 21 tahun.

Baca juga: Trump: Mempersenjatai Guru Dapat Mencegah Penembakan di Sekolah

Trump menjelaskan, dia yakin NRA hanya berusaha berbuat baik dalam usaha mencegah lebih banyak korban tewas karena ditembak.

"Mereka (NRA) adalah orang-orang hebat. Mereka cinta Amerika, sangat patriot, dan saya dekat dengan mereka," beber Trump.

Namun, diwartakan AFP, langkah itu dilakukan Trump karena NRA diduga menjadi kelompok yang telah membiayai kampanyenya.

Terdapat 700.000 guru yang mempunyai keterampilan menggunakan senjata. Sebuah kesempatan bisnis yang menggiurkan bagi pabrikan senjata.

Sebelumnya, Cruz melakukan penembakan ke SMA Marjory yang notabene merupakan bekas sekolahnya menggunakan senapan serbu AR-15.

Akibatnya, 17 orang tewas dan 15 orang terluka. Cruz ditangkap polisi setelah dia mengunjungi Walmart dan McDonald's.

Di mata pasangan Snead, keluarga yang menampung Cruz, anak itu dikenal sebagai anak yang penurut meski mempunyai kebiasaan aneh.

Antara lain, Cruz dikatakan menaburkan kue cokelat di roti lapis yang berisi dengan daging dan keju.

Kelompok supremasi kulit putih, Republik Florida (RoF), mengaku bahwa Cruz pernah menerima pelatihan paramiliter di Tallahassee.

Insiden itu menjadi penembakan massal di sekolah terbesar kedua setelah SD Sandy Hook di Newton pada 2012 yang menewaskan 20 anak berusia enam tahun.

Baca juga: Hadapi Korban Penembakan Florida, Trump Gunakan Kertas Contekan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber Sky,AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.