Menolak Dideportasi, Ratusan Migran Afrika di Israel Mogok Makan - Kompas.com

Menolak Dideportasi, Ratusan Migran Afrika di Israel Mogok Makan

Kompas.com - 22/02/2018, 20:15 WIB
Foto yang diambil pada 4 Februari 2018, menunjukkan sejumlah warga migran Afrika di pusat penampungan di Holot.AFP/MENAHEM KAHANA Foto yang diambil pada 4 Februari 2018, menunjukkan sejumlah warga migran Afrika di pusat penampungan di Holot.

HOLOT, KOMPAS.com - Ratusan migran Afrika yang berada di pusat penampungan melancarkan aksi mogok makan. Mereka memprotes kebijakan pemerintah Israel yang mulai memenjarakan para migran yang menolak dideportasi.

Pemerintah Israel telah memperingatkan kepada para migran yang masih berada di wilayahnya dan menolak tawaran deportasi hingga April mendatang akan menghadapi hukuman penjara tanpa batas waktu.

Awal bulan ini pemerintah Israel telah mulai mengedarkan surat pemberitahuan deportasi. Dan pada Selasa (20/2/2018), otoritas Israel mulai memindahkan para migran Afrika dari pusat penampungan di Holot ke penjara di dekatnya.

Baca juga: Israel Mulai Kirim Surat Pemberitahuan Deportasi ke Migran Afrika


Sebanyak tujuh orang migran Afrika dipindahkan dari Holot ke sebuah penjara terdekat. Kemudian Rabu (21/2/2018), kembali lima orang yang dibawa.

Dengan pemerintah Israel yang mulai memasukkan migran ke penjara, sekitar 750 orang yang ditampung di Holot memutuskan melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes.

"Aksi ini sudah dimulai sejak Selasa malam, setelah beberapa orang pertama yang dibawa ke penjara," kata Abdat Ismael, salah satu migran asal Eritrea yang ditempatkan di fasilitas terbuka di Israel selatan.

Ismael mengatakan, para migran menolak dideportasi karena nyawa mereka akan terancam atau dipenjara jika kembali ke negara mereka.

Pemerintah Israel telah menawarkan opsi kepada migran untuk dipindahkan ke negara ketiga yang tidak disebutkan namanya. Namun mereka juga menolak karena tidak adanya jaminan keselamatan bagi mereka setelah pindah ke negara itu.

"Kami melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang pergi (ke negara-negara Afrika lainnya) satu atau dua tahun yang lalu, mereka tidak mendapat suaka dan bisa saja sudah mati," kata Ismael dilansir AFP.

Juru bicara kementerian dalam negeri Israel membenarkan, pihaknya telah mulai menjalankan kebijakan deportasi atau penjara kepada para migran di Holot, menjelang batas waktu 1 April.

Menurut data kementerian dalam negeri, saat ini ada sekitar 42.000 migran Afrika di Israel. Kebanyakan mereka datang dari Eritrea dan Sudan yang melarikan diri dari situasi sulit di negara mereka.

Baca juga: Migran Afrika: Dipenjara Lebih Baik daripada Harus Kembali

Namun tidak seluruh migran itu akan dideportasi. Pejabat Israel menegaskan para pengungsi dan pencari suaka tidak akan dipulangkan paksa.

Begitu pula untuk anak-anak, perempuan, dan migran pria yang berkeluarga, tidak termasuk dalam sasaran program deportasi.


Terkini Lainnya

Sebar Hoaks yang Meresahkan, Pemuda Ini Dibekuk Polda Gorontalo

Sebar Hoaks yang Meresahkan, Pemuda Ini Dibekuk Polda Gorontalo

Regional
Kuasa Hukum Plt Kepala BPPKAD Gresik Sebut Uang Potongan Insentif oleh Kliennya untuk Biaya Kegiatan

Kuasa Hukum Plt Kepala BPPKAD Gresik Sebut Uang Potongan Insentif oleh Kliennya untuk Biaya Kegiatan

Regional
Polisi Tangkap Aris Indonesian Idol Terkait Kasus Narkoba

Polisi Tangkap Aris Indonesian Idol Terkait Kasus Narkoba

Megapolitan
Dapat Adipura Kategori Pasar, Ini Tanggapan Wali Kota Jakarta Selatan

Dapat Adipura Kategori Pasar, Ini Tanggapan Wali Kota Jakarta Selatan

Megapolitan
Datangi KPK, Menteri Kesehatan Bahas Kajian Tata Kelola Alat Kesehatan

Datangi KPK, Menteri Kesehatan Bahas Kajian Tata Kelola Alat Kesehatan

Nasional
Saat Uni Soviet Mengorbankan Anjing untuk Mengalahkan Tank Jerman

Saat Uni Soviet Mengorbankan Anjing untuk Mengalahkan Tank Jerman

Internasional
Komnas HAM: Presiden Terpilih Bertanggung Jawab Selesaikan Kasus Pelanggaran HAM Berat

Komnas HAM: Presiden Terpilih Bertanggung Jawab Selesaikan Kasus Pelanggaran HAM Berat

Nasional
Muhibah Pinisi Bakti Nusa, Menautkan Kepulauan Nusantara

Muhibah Pinisi Bakti Nusa, Menautkan Kepulauan Nusantara

Regional
Kasus Bupati Cianjur, KPK Panggil Empat Kepala Sekolah

Kasus Bupati Cianjur, KPK Panggil Empat Kepala Sekolah

Nasional
Parlemen Venezuela Ajak Militer dan Pejabat Sipil Melawan Maduro

Parlemen Venezuela Ajak Militer dan Pejabat Sipil Melawan Maduro

Internasional
Jokowi Bertemu Ketum Parpol, PSI Makin Yakin Jokowi Unggul di Debat

Jokowi Bertemu Ketum Parpol, PSI Makin Yakin Jokowi Unggul di Debat

Nasional
Komnas HAM Duga Pelaku Pembunuhan Dukun Santet Tahun 1998-1999 Orang Terlatih

Komnas HAM Duga Pelaku Pembunuhan Dukun Santet Tahun 1998-1999 Orang Terlatih

Nasional
Pengalaman Mencoba Akses WiFi Gratis di Stasiun Jabodetabek...

Pengalaman Mencoba Akses WiFi Gratis di Stasiun Jabodetabek...

Megapolitan
Berpose dengan Senapan, Perempuan Ini Mengaku Tak Sengaja Tembak Pacarnya

Berpose dengan Senapan, Perempuan Ini Mengaku Tak Sengaja Tembak Pacarnya

Internasional
Sarana dan Prasarana Canggih yang Akan Dibangun di TPST Bantargebang

Sarana dan Prasarana Canggih yang Akan Dibangun di TPST Bantargebang

Megapolitan

Close Ads X