Kompas.com - 10/02/2018, 18:18 WIB

KOMPAS.com - Pada 5 Januari lalu, pangkalan militer Rusia di Suriah diserang oleh 13 pesawat nirawak (drone).

Rinciannya, 10 pesawat menyerang pangkalan angkatan udara Khmeimim. Sementara sisanya menargetkan pangkalan angkatan laut di Tartus.

Yang membuat militer Rusia terkejut adalah ketika mereka berhasil menangkap lima di antaranya, drone itu tidak seperti yang mereka bayangkan.

Alih-alih menggunakan teknologi canggih, pesawat itu dibuat dengan bahan-bahan yang lazim ditemukan di rumah tangga.

Sayap dengan rentang tiga meter dibuat dari campuran plastik dan kayu. Tenaga pesawat itu berasal dari mesin pemotong rumput.

Baca juga : Aksi Drone Rekam Pesawat Penumpang Mendarat di Las Vegas Tuai Kecaman

Setiap unit drone tersebut membawa 10 granat masing-masing di dua sayapnya.

Berdasar laporan dari Kementerian Pertahanan Rusia, drone itu diarahkan via GPS, dan bisa dikendalikan hingga jarak 100 kilometer.

Komponen elektronik yang ada di drone itu bisa ditemukan di toko-toko biasa, dan dan diklaim biaya pembuatannya hanya beberapa ribu dolar Amerika Serikat (AS).

Kehadiran drone itu meneggelamkan pamor pesawat nirawak berteknologi canggih yang dimiliki Rusia seperti Orlan-10.

Sebelumnya, pada Tahun Baru (1/1/2018), Khmeimim juga mendapat serangan yang menghancurkan tujuh pesawat militernya.

Beberapa kelompok seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) juga dilaporkan mampu membuat drone yang mirip dengan Skywalker X8.

Jenis ini bisa menjangkau jarak yang lebih jauh, dan mampu membawa bom yang lebih besar.

Teknologi Murah, tapi Berbahaya
Dibandingkan dengan perangkat militer, teknologi pembuatan drone relatif gampang, dan bisa dijangkau dengan teknologi di masyarakat umum.

Pada 2014, MITRE, sebuah lembaga think-tank keamanan yang berbasis di Virginia AS, mencoba membuat drone rakitan dari bahan yang jamak ditemui sehari-hari.

Hasilnya, mereka berhasil membuat satu unit pesawat nirawak dengan biaya sekitar 2.000 dolar AS, atau sekitar Rp 27,2 juta.

Baca juga : Tangkal Drone Musuh, Rusia Gunakan Burung Rajawali

Dilansir situs The Economist Kamis (8/2/2018), biaya untuk membentuk satu skuadron (12-24 pesawat) sama dengan harga granat berpeluncur roket (RPG).

Bandingkan dengan satu pesawat tempur milik AS, F-22, yang diklaim bisa menembus 300 juta dolar AS, atau sekitar Rp 4 triliun.

Meski bisa dirakit dari bahan-bahan rumah tangga, drone tetap menjadi predator yang berbahaya.

Hal itu diakui oleh mantan komandan operasi penumpasan ISIS, Letnan Jenderal Stephen Townsend.

"Drone menjadi ancaman nomor satu yang dihadapi oleh setiap prajurit di medan tempur," ujar Townsend.

Townsend melanjutkan, kehadiran dan perkembangan drone telah mengacaukan industri pertahanan.

Berbagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) masa kini tidak didesain untuk menghadapi drone.

Sebab, pesawat nirawak terlalu kecil dan cepat untuk diidentifikasi, dilacak, atau mungkin dihancurkan.

Jamming, atau mengganggu saluran radio antara operator dan drone menjadi satu-satunya cara yang dipakai untuk melumpuhkan pesawat tersebut.

Diberitakan oleh The Economist, militer biasanya memutus saluran radio, atau mengganggu sistem GPS dari drone itu.

Baca juga : Turki Tawarkan Kerja Sama Pembuatan Kapal Selam dan Pesawat Tanpa Awak

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.