Melihat Pengelolaan Sungai Cheonggyecheon yang Menginsipirasi Jakarta Halaman 1 - Kompas.com

Melihat Pengelolaan Sungai Cheonggyecheon yang Menginsipirasi Jakarta

Kompas.com - 09/02/2018, 16:25 WIB
Seorang warga Seoul menyeberangi aliran Cheonggyecheon di Seoul. Aliran sungai buatan tersebut sebagai hasil restorasi yang dikerjakan pada 2003-2005.Ed Jones / AFP Seorang warga Seoul menyeberangi aliran Cheonggyecheon di Seoul. Aliran sungai buatan tersebut sebagai hasil restorasi yang dikerjakan pada 2003-2005.

SEOUL, KOMPAS.com - Berbicara tentang sungai di Korea Selatan, mungkin orang akan banyak menyebut sungai Han, yang dikenal sebagai salah satu sungai utama di negara itu.

Namun di ibu kota Seoul, terdapat sungai kecil yang memiliki peranan besar dalam sejarah Korea Selatan. Sungai yang dimaksud adalah sungai Cheonggyecheon.

Saat ini, sungai yang mengalir di tengah kemegahan gedung bertingkat itu menjadi salah satu daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Sungai sepanjang sekitar enam kilometer tersebut bahkan kerap menjadi lokasi syuting film maupun drama.

Tapi ternyata, sungai yang mengalir dari barat ke timur melintasi pusat kota Seoul itu bukanlah sungai yang sebenarnya.

Sungai Cheonggyecheon adalah sungai buatan yang dibangun melalui proyek restorasi antara 2003 hingga 2005.

Baca juga: Restorasi Makam Yesus Berbiaya Rp 49 Miliar Rampung, Apa yang Berubah?

Sungai tersebut pada awalnya bernama Gaechoen yang berarti "aliran yang terbuka". Aliran sungai dimanfaatkan untuk sistem pengairan selama masa Dinasti Joseon (1392-1897).

Pada masa itu banyak dilakukan pekerjaan pemugaran tepi sungai dan pembangunan jembatan.

Namun saat Jepang di bawah kekaisaran Hirohito menduduki Korea, krisis terjadi yang menyebabkan proyek sungai terhenti. Pada masa ini pula nama sungai diubah menjadi Cheonggyecheon.

Sungai Cheonggyecheon menyediakan ruang terbuka bagi warga kota Seoul, Korea Selatan.Wikipedia Sungai Cheonggyecheon menyediakan ruang terbuka bagi warga kota Seoul, Korea Selatan.
Setelah Perang Korea (1950-1953) yang berakhir dengan perjanjian gencatan senjata antara Korea Selatan dengan Korea Utara, banyak warga pindah ke Seoul untuk mengadu nasib.

Para pendatang kemudian mulai mendirikan tempat tinggal di sepanjang sungai Cheonggyecheon, mengubah kawasan itu menjadi daerah kumuh.

Selama bertahun-tahun, pesisir sungai Cheonggyecheon kian dipdati rumah-rumah warga. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya sampah dan limbah di sepanjang sungai yang menjadikan wajah kota Seoul semakin buruk.

Baca juga: Di Tengah Restorasi, Masjid Bersejarah Era Ottoman di Yunani Terbakar

Hingga akhirnya, pada 1958, pemerintah kota Seoul memutuskan merelokasi warga dan menutup sungai.

Selama 20 tahun sungai Cheonggyecheon ditutup dan dilanjutkan dengan membuat jalan layang tepat di atas bekas aliran sungai.

Jalan layang Cheonggyecheon akhirnya rampung pada 1976 dengan panjang 5,6 kilometer dan lebar 15 meter. Pada masa ini, kota Seoul mulai memasuki masa industrialisasi.


Page:

Close Ads X