Produsen Vaksin Demam Berdarah Tolak Bayar Ganti Rugi pada Filipina

Kompas.com - 06/02/2018, 08:08 WIB
Vaksin demam berdarah Dengvaxia yang dihentikan penggunaannya oleh pemerintah Filipina. Noel Celis / AFPVaksin demam berdarah Dengvaxia yang dihentikan penggunaannya oleh pemerintah Filipina.
|
EditorAgni Vidya Perdana

MANILA, KOMPAS.com - Perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin demam berdarah menolak tuntutan pemerintah Filipina untuk mengembalikan secara penuh total dana yang telah bayarkan kepada perusahaan tersebut.

Perusahaan Sanofi yang bermarkas di Perancis, pada Senin (5/2/2018), menyampaikan hanya setuju mengembalikan dana untuk sejumlah vaksin Dengvaxia yang belum digunakan setelah dilarang penggunaan dan peredarannya oleh pemerintah Filipina.

Pemerintah Filipina awalnya menuntut Sanofi untuk mengembalikan penuh dana yang telah dibayarkan yakni sebesar 3,2 miliar peso (sekitar Rp 839 miliar).

Baca juga: Dampak Vaksin Demam Berdarah, Orangtua di Filipina Tolak Anaknya Diimunisasi

Jumlah tersebut untuk total 830.000 vaksin Dengvaxia yang diberikan kepada anak-anak Filipina melalui program imunisasi massal yang telah digelar pada 2016 dan 2017 lalu.

Namun kemudian program imunisasi dihentikan pada tahun lalu karena adanya dugaan vaksin demam berdarah itu memiliki efek samping dan terkait dengan kematian sejumlah anak yang telah mendapat suntikan vaksin pada 2016.

Bulan lalu, Sanofi sempat setuju untuk mengganti separuh dana dari total yang diinginkan pemerintah Filipina untuk vaksin yang tersisa. Namun kini, mereka menyampaikan tidak akan mengganti untuk vaksin yang sudah digunakan.

"Jika kami setuju mengembalikan dana untuk dosis vaksin Dengvaxia yang telah digunakan, maka hal itu akan mengindikasikan jika vaksin tidak bekerja. Padahal bukan itu penyebabnya," tulis pernyataan Sanofi.

Pengembalian dana ditawarkan hanya untuk vaksin yang belum digunakan semata-mata hanya untuk menunjukkan sikap kooperatif perusahaan dengan pemerintah Filipina.

Sanofi juga telah menolak permintaan departemen kesehatan yang menuntut ganti rugi untuk biaya rawat inap dan perawatan anak-anak yang telah divaksinasi namun mengalami gejala demam berdarah yang cukup parah.

"Jika ada bukti ilmiah yang kredibel terkait dengan vaksinasi, kami akan memikul tanggung jawab," kata Sanofi dalam pernyataannya.

Kantor Kejaksaan Umum Filipina mengatakan akan membantu warga mengajukan tuntutan ganti rugi untuk kematian seorang anak perempuan usia 10 tahun yang meninggal tahun lalu diduga lantaran vaksin Dengvaxia.

Baca juga: Filipina Tuntut Rp 800 Miliar dari Produsen Vaksin Demam Berdarah

Tuntutan akan dilayangkan kepada Sanofi selaku produsen, pihak distributor, serta pejabat yang turut bertanggung jawab atas kematian anak tersebut.

Kantor Kejaksaan Umum mengatakan juga telah menerima perintah dari Kementerian Kehakiman pada untuk memberikan bantuan hukum gratis dalam kasus perdata, pidana dan administratif kepada semua kemungkinan korban terkait Dengvaxia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus 2 Remaja Tewas Ditabrak Mobil di Jakarta, Bagaimana Hukum Penggunaan Skuter Listrik di Negara Lain?

Kasus 2 Remaja Tewas Ditabrak Mobil di Jakarta, Bagaimana Hukum Penggunaan Skuter Listrik di Negara Lain?

Internasional
Lakukan Pelecehan Seksual, Pelaku Malah Salahkan Korban

Lakukan Pelecehan Seksual, Pelaku Malah Salahkan Korban

Internasional
Tukang Pijat asal Indonesia Dirampok dan Diperkosa, Polisi Malaysia Tangkap Pria 31 Tahun

Tukang Pijat asal Indonesia Dirampok dan Diperkosa, Polisi Malaysia Tangkap Pria 31 Tahun

Internasional
Bayi 2 Tahun di Toronto Tewas Setelah Kejatuhan AC

Bayi 2 Tahun di Toronto Tewas Setelah Kejatuhan AC

Internasional
Mantan Presiden Bolivia Evo Morales Mengaku Kepalanya Dihargai Rp 703 Juta

Mantan Presiden Bolivia Evo Morales Mengaku Kepalanya Dihargai Rp 703 Juta

Internasional
Pemadam Kebakaran Hutan Australia Kirim Pesan Menyentuh ke Pemilik Rumah yang Mereka Selamatkan

Pemadam Kebakaran Hutan Australia Kirim Pesan Menyentuh ke Pemilik Rumah yang Mereka Selamatkan

Internasional
Dokter Keluarkan Potongan Kertas yang Masuk di Mata Gadis 7 Tahun Ini

Dokter Keluarkan Potongan Kertas yang Masuk di Mata Gadis 7 Tahun Ini

Internasional
Meski Hamil 14 Pekan, Wanita Ini Berjibaku Padamkan Kebakaran Hutan Australia

Meski Hamil 14 Pekan, Wanita Ini Berjibaku Padamkan Kebakaran Hutan Australia

Internasional
Dunia Internasional Puji Cara Indonesia Perlakukan Napi Teroris

Dunia Internasional Puji Cara Indonesia Perlakukan Napi Teroris

Internasional
Sungai di Korea Selatan Berubah Merah karena Terkena Darah Babi

Sungai di Korea Selatan Berubah Merah karena Terkena Darah Babi

Internasional
Venesia Dilanda Banjir akibat Gelombang Pasang Tertinggi dalam 50 Tahun Terakhir

Venesia Dilanda Banjir akibat Gelombang Pasang Tertinggi dalam 50 Tahun Terakhir

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Bocah 10 Tahun Hamil Diperkosa Kakak | Penyebab Pria Hong Kong Dibakar Hidup-hidup

[POPULER INTERNASIONAL] Bocah 10 Tahun Hamil Diperkosa Kakak | Penyebab Pria Hong Kong Dibakar Hidup-hidup

Internasional
Guru di AS Ini Terekam Pukul Murid Berkebutuhan Khusus hingga Tersungkur

Guru di AS Ini Terekam Pukul Murid Berkebutuhan Khusus hingga Tersungkur

Internasional
Pria Ini Ditangkap dan Diborgol karena Makan Sandwich Saat Menunggu Kereta

Pria Ini Ditangkap dan Diborgol karena Makan Sandwich Saat Menunggu Kereta

Internasional
Kucing Pahlawan Ini Selamatkan Bayi 1 Tahun Sebelum Jatuh dari Tangga

Kucing Pahlawan Ini Selamatkan Bayi 1 Tahun Sebelum Jatuh dari Tangga

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X