Kompas.com - 25/01/2018, 08:48 WIB
|
EditorVeronika Yasinta


VATICAN CITY, KOMPAS.com - Pemimpin Gereja Katolik Roma sedunia, Paus Fransiskus menyinggung masalah berita palsu dalam pesannya di Hari Komunikasi Dunia, pada Rabu (24/1/2018).

Dia menggambarkan keterkaitan antara fenomena berita palsu dengan kisah alkitab tentang Adam, Hawa, ular, dan buah terlarang.

Paus menyebut peristiwa Hawa yang tertipu oleh ular sebagai kasus berita palsu pertama.

"Kita perlu membuka kedok apa yang disebut sebagai taktik ular, yang juga digunakan oleh mereka yang menyamarkan diri untuk menyerang," katanya.

Paus Fransiskus menggunakan kisah Adam dan Hawa dari Kitab Kejadian di Perjanjian Lama, untuk menyoroti tidak ada disinformasi yang tidak berbahaya.

Baca juga : Ketika Paus Fransiskus Menolong Polisi yang Jatuh dari Kuda di Chile

Menurutnya, mempercayai kepalsuan dapat memiliki konsekuensi yang mengerikan.

Dalam kisah Kejadian, ular meyakinkan Hawa dan kemudian Adam untuk memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan. Hal itu menyebabkan mereka terusir dari Taman Eden.

"Menyebarkan berita palsu dapat digunakan untuk tujuan tertentu, mempengaruhi keputusan politik, dan kepentingan ekonomi," ujar paus.

Untuk membedakan kebenaran dengan kebohongan, paus menyarankan agar masyarakat melihat hasilnya, seperti apakah berita tersebut memprovokasi pertengkaran, atau sebaliknya.

Paus memandang jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah misi, dan wartawan merupakan pelindung berita yang menyuarakan jurnalisme perdamaian.

Baca juga : Paus Fransiskus Nikahkan Pasangan Kru Pesawat di Tengah Penerbangan

Ungkapan fake news atau berita palsu dipopulerkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat memenangkan pemilihan presiden 2016, dan tahun pertamanya di Gedung Putih.

Trump menggunakan istilah itu untuk menggambarkan bias media yang melawannya. Beberapa waktu lalu, Trump juga baru saja mengungkap peraih "Fake News Award" versinya di Twitter.  

Penghargaan tersebut mencakup jaringan berita dan surat kabar terkemuka di AS, seperti CNN, The New York Times, dan The Washington Post.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.