Kompas.com - 25/01/2018, 08:48 WIB
Paus Francis melambai ke kerumunan selama audiensi umum mingguan di alun-alun Santo Petrus, Vatikan, pada Rabu (24/1/2018). (AFP/Andreas Solaro) Paus Francis melambai ke kerumunan selama audiensi umum mingguan di alun-alun Santo Petrus, Vatikan, pada Rabu (24/1/2018). (AFP/Andreas Solaro)
|
EditorVeronika Yasinta


VATICAN CITY, KOMPAS.com - Pemimpin Gereja Katolik Roma sedunia, Paus Fransiskus menyinggung masalah berita palsu dalam pesannya di Hari Komunikasi Dunia, pada Rabu (24/1/2018).

Dia menggambarkan keterkaitan antara fenomena berita palsu dengan kisah alkitab tentang Adam, Hawa, ular, dan buah terlarang.

Paus menyebut peristiwa Hawa yang tertipu oleh ular sebagai kasus berita palsu pertama.

"Kita perlu membuka kedok apa yang disebut sebagai taktik ular, yang juga digunakan oleh mereka yang menyamarkan diri untuk menyerang," katanya.

Paus Fransiskus menggunakan kisah Adam dan Hawa dari Kitab Kejadian di Perjanjian Lama, untuk menyoroti tidak ada disinformasi yang tidak berbahaya.

Baca juga : Ketika Paus Fransiskus Menolong Polisi yang Jatuh dari Kuda di Chile

Menurutnya, mempercayai kepalsuan dapat memiliki konsekuensi yang mengerikan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam kisah Kejadian, ular meyakinkan Hawa dan kemudian Adam untuk memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan. Hal itu menyebabkan mereka terusir dari Taman Eden.

"Menyebarkan berita palsu dapat digunakan untuk tujuan tertentu, mempengaruhi keputusan politik, dan kepentingan ekonomi," ujar paus.

Untuk membedakan kebenaran dengan kebohongan, paus menyarankan agar masyarakat melihat hasilnya, seperti apakah berita tersebut memprovokasi pertengkaran, atau sebaliknya.

Paus memandang jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah misi, dan wartawan merupakan pelindung berita yang menyuarakan jurnalisme perdamaian.

Baca juga : Paus Fransiskus Nikahkan Pasangan Kru Pesawat di Tengah Penerbangan

Ungkapan fake news atau berita palsu dipopulerkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat memenangkan pemilihan presiden 2016, dan tahun pertamanya di Gedung Putih.

Trump menggunakan istilah itu untuk menggambarkan bias media yang melawannya. Beberapa waktu lalu, Trump juga baru saja mengungkap peraih "Fake News Award" versinya di Twitter.  

Penghargaan tersebut mencakup jaringan berita dan surat kabar terkemuka di AS, seperti CNN, The New York Times, dan The Washington Post.



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.