Kompas.com - 25/01/2018, 08:15 WIB
Pangeran Arab Saudi Al Waleed Bin Talal bin Abdulaziz al Saud. (AFP/Ishara S Kodikara)
Pangeran Arab Saudi Al Waleed Bin Talal bin Abdulaziz al Saud. (AFP/Ishara S Kodikara)
|
EditorVeronika Yasinta


RIYADH, KOMPAS.com - Otoritas Arab Saudi masih menahan 95 orang dalam aksi pemberantasan korupsi yang diluncurkan oleh putra mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman pada November 2017.

Dalam infografis yang diunggah di Twitter, Rabu (24/1/2018), 80 hari sejak operasi pemberantasan korupsi, jaksa agung kerajaan menyatakan 90 tahanan telah dibebaskan melalui kesepakatan dengan membayar sejumlah uang tunai, real estate, dan menyerahkan kepemilikan aset lainnya.

Otoritas Saudi telah menahan anggota elit politik dan pebisnis, termasuk pangeran dan taipan, di hotel mewah Ritz Carlton di Riyadh.

Tuduhan terhadap pangeran, elit politik, dan pebisnis Saudi di antaranya mencakup suap, penggelembungan kontrak pemerintah, pemerasan, dan penyuapan.

"Yang dipanggil dalam aksi pemberantasan korupsi ada 350 orang, terdiri dari mereka yang diduga melakukan korupsi, saksi, dan orang yang memiliki informasi relevan," tulis infografis yang dirilis.

Baca juga : Uang Tebusan Tersangka Korupsi di Saudi Bakal Tembus Rp 1.300 Triliun

Di sisi lain, pemberantasan korupsi tersebut justru menimbulkan kekhawatiran di bidang ekonomi, terutama kalangan investor asing. Kendati pemerintah Saudi melakukan tindakan tegas, namun perusahan pengusaha yang ditahan dijamin terus dapat beroperasi secara normal.

Sementara itu, hotel Ritz Carlton diperkirakan akan kembali buka untuk bisnis pada bulan depan. Pihak berwenang Saudi hampir menutup sebagian besar hotel tersebut untuk kepentingan penahanan.

Pada akhir November 2017, Pangeran Miteb bin Abdullah, yang pernah dipandang sebagai pesaing utama takhta, dibebaskan setelah mencapai penyelesaian dengan pihak berwenang dengan membayar lebih dari 1 miliar dollar Amerika Serikat atau

Baca juga : Hotel Berbintang Penjara Pangeran Saudi Segera Kembali Buka untuk Umum

Pebisnis papan atas dan elit politik lainnya juga ditahan di Ritz Carlton, seperti Pangeran Alwaleed bin Talal, pemimpin dan pemilik perusahaan investasi global Kingdom Holding, dikabarkan sedang melakukan negosiasi.

Pemerintah Arab Saudi diyakini mampu mengumpulkan target 100 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 1.332 triliun dari puluhan pangeran dan pebisnis yang sepakat untuk membayar uang pembebasan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X