Kompas.com - 22/01/2018, 22:49 WIB
Politisi Rusia Alexei Navalny terlihat tengah bekerja di ruanganya di kantornya di Yayasan Anti-korupsi (FBK) di Moskwa, Selasa (16/1/2018). Mladen Antonov / AFPPolitisi Rusia Alexei Navalny terlihat tengah bekerja di ruanganya di kantornya di Yayasan Anti-korupsi (FBK) di Moskwa, Selasa (16/1/2018).
|
EditorAgni Vidya Perdana

MOSKWA, KOMPAS.com - Langkah pengkritik pemerintah Rusia, sekaligus pemimpin oposisi, Alexei Navalny untuk dapat maju dalam ajang pemilu Presiden 2018 mendatang semakin sulit.

Navalny telah dilarang turut serta dalam pemilihan presiden oleh Komisi Pemilu Pusat Rusia dan beberapa waktu lalu polisi menggeledah kantor serta menyita barang-barang keperluan kampanyenya.

Kini pemerintah Rusia melalui pengadilan distrik Meshchansky, Moskwa telah memerintahkan penutupan yayasan yang mendanai kegiatan Navalny.

Baca juga: Polisi Geledah 11 Kantor Kampanye Pemimpin Oposisi Rusia

Yayasan Fifth Season of the Year yang menyokong pendanaan untuk kegiatan kampanye Navalny diperintahkan tutup setelah dituduh melakukan berbagai penyimpangan.

Penutupan tersebut sebagai permintaan dari Kementerian Keadilan Rusia dan disetujui pengadilan distrik Meshchansky.

Namun, setelah terus menerus dihalangi oleh pemerintah, kelompok Navalny tampaknya belum akan menyerah untuk dapat ikut serta dalam pemilihan presiden Rusia yang akan digelar Maret 2018 mendatang.

"Bahkan jika kami harus menutup pendanaan, tidak ada yang akan berhenti," kata juru bicara kampanye Navalny, Ruslan Shaveddinov kepada AFP, Senin (22/1/2018).

"Gerakan kampanye masih akan terus berlanjut. Kami telah melatih para pemantau dan kami siap untuk melakukan pemogokan pemilih," tambahnya.

Alexei Navalny dipandang banyak pihak sebagai satu-satunya sosok yang dapat menyaingi Putin dalam pemilihan presiden.

Baca juga: Calon Presiden Rusia Ini Yakin Bisa Kalahkan Putin

Namun, Komisi Pemilu Pusat Rusia telah mengeluarkan larangan terhadap Navalny dengan alasan telah terlibat dalam kasus kriminal. Navalny telah mengajukan banding hingga mahkaman agung, namun tetap tidak dikabulkan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.