Kompas.com - 22/01/2018, 14:17 WIB
|
EditorErvan Hardoko

Pada 1997, jerih payah Morales berpolitik terbayar. Dia terpilih menjadi anggota majelis rendah Parlemen Bolivia dan kemudian menjadi kandidat presiden dari MAS pada 2002.

Dalam kampanye, Morales menyerukan pengusiran DEA, organisasi pemberantas obat-obatan terlarang AS yang beroperasi di Bolivia.

Sayangnya, dalam pemilihan presiden 2002, Morales kalah tipis dari Gonzalo Sanchez de Lozada. Meski kalah Morales tetap aktif berpolitik.

Pada 2003, Sanchez de Lozada mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. Pemerintahanya diteruskan Carlos Mesa Gibert yang mempertimbangkan untuk mengubah kebijakan penghapusan produksi koka ilegal yang tidak populer itu.

Baca juga : Hari Ini dalam Sejarah: Vietnam Tumbangkan Rezim Brutal Khmer Merah

Pada 2005, MAS kembali mengusung Morales sebagai calon presiden dan kali ini bocah penggembala llama itu menang dengan meraup 54 persen suara.

Morales menjadi keturunan Indian pertama yang menjadi presiden Bolivia dan sekaligus calon presiden yang memenangkan suara mayoritas sejak 1982.

Saat dilantik pada Januari 2006, Morales berjani akan mengurangi kemiskinan warga keturunan Indian, mengurangi tekanan pada petani koka, menasionalisasi sektor energi, memerangi korupsi, dan meningkatkan pajak untuk orang kaya.

Morales juga mendukung amandemen konstitusi untuk memperkuat hak-hak warga keturunan Indian, menegaskan politik nasionalisasi, dan redistribusi tanah.

Selain itu amandemen konstitusi juga didorong untuk menambah masa jabatan presiden Bolivia menjadi dua kali berturut-turut.

Sayangnya, dalam referendum yang digelar Juli 2006, MAS gagal mendapatkan dukungan mayoritas majelis tinggi.

Meski demikian, Morales tetap menasionalisasi industri minyak dan gas negeri itu lalu pada November dia menekan undang-undang reformasi pertahanan.

Undang-undang baru ini memberi hak kepada negara untuk menyita lahan-lahan tak produktif yang tak digarap pemiliknya dan memberikan lahan itu kepada rakyat miskin.

Langkah reformasi ini mendapat tentangan dari provinsi-provinsi kaya di Bolivia, empat di antara provinsi-provinsi itu malah mendukung status otonomi dalam referendum 2008.

Namun, pemerintahan Morares tak mengakui hasil referendum yang dianggap ilegal tersebut. Alhasil suhu politik memanas diwarnai aksi unjuk rasa dengan kekerasan di seluruh negeri.

Seruan untuk menggelar referendum terkait pemerintahan Morales akhirnya digelar pada 2008 dan dua pertiga pemilih memutuskan Morales tetap memerintah.

Setelah tiga tahun merancang konstitusi baru, akhirnya usulan Morales itu disetujui rakyat pada referendum yang digelar pada Januari 2009.

Artinya, Morales bisa mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua. Sebelumnya, konstitusi Bolivia mengatur seorang presiden hanya bisa berkuasa untuk satu kali masa jabatan.

Baca juga : Hari Ini dalam Sejarah: Kelahiran Sistem Komunikasi Telegraf

Selain bisa mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, konstitusi baru memberikan hak kepada presiden untuk membubarkan Kongres.

Perubahan lain adalah meningkatnya hak-hak warga asli Bolivia, memperkuat kontrol negara terhadap sumber daya alam, dan membatasi kepemilikan tanah pribadi.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.