Kompas.com - 19/01/2018, 20:31 WIB
|
EditorArdi Priyatno Utomo

BRUSSELS, KOMPAS.com - Presiden tersingkir Catalonia, Carles Puigdemont, menegaskan dirinya masih tetap bisa memimpin dari tempat pengasingannya.

Diwartakan AFP Jumat (19/1/2018), Puigdemont berkata dia tidak bisa mengikuti pendapat pakar Parlemen Catalonia bahwa calon presiden harus hadir saat pemilihan.

Sebab, jika dia kembali, dia terancam ditangkap oleh otoritas hukum Spanyol.

"Jika saya dipenjara, saya tidak akan bisa berjumpa dengan rakyat, dan memenuhi aspirasi mereka," tutur Puigdemont kepada Catalunya Radio.

Karena itu, dia memutuskan bakal tetap berada di Brussels, Belgia, sembari memerintah Catalonia.

"Di era sekarang, teknologi membantu segala lini kehidupan seperti bisnis, dunia akademik, hingga proyek penelitian," tutur Puigdemont.

Baca juga : Samakan PM Spanyol dengan Hitler, Puigdemont Dikecam

Puigdemont berusaha membantah pernyataan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, yang saat itu menyindir bagaimana cara Puigdemont memerintah jika terpilih.

"Sangat absurd jika Anda dengan yakin berkata bisa memerintah suatu wilayah bukan di tempat asal Anda sendiri," ujar Rajoy saat itu

AFP memberitakan, Puigdemont bermaksud untuk menyatakan pencalonannya sebagai calon presiden lewat video, atau meminta orang membacakan pernyataannya.

Puigdemont melanjutkan, dia merasa masih pantas untuk kembali memimpin Catalonia. Sebab, dirinya mengaku telah mendapat mandat dari rakyat.

Dalam pemilu 21 Desember 2017, partai Puigdemont, Bersatu untuk Catalonia, berada di peringkat kedua dengan meraup 34 kursi parlemen.

Adapun kelompok pro-kemerdekaan Catalonia memegang suara mayoritas dengan mengamankan 70 kursi.

"Hasil dari pemilihan ini sangat penting untuk program pemerintahan ke depannya," beber Puigdemont.

Pasca-pernyataan deklarasi kemerdekaan yang dilakukan Catalonia 27 Oktober 2017, Spanyol langsung merespon dengan mengaktifkan Artikel 155 Konstitusi 1978.

Artikel tersebut memberikan kewenangan kepada Spanyol untuk mengambil alih pemerintahan di Catalonia.

Perdana Menteri Mariano Rajoy langsung membubarkan pemerintahan Catalonia, dan menjerat tokoh-tokohnya dengan tuduhan makar.

Empat pejabat Catalonia, termasuk Wakil Presiden Oriol Junqueras, ditahan sejak 2 November 2017.

Sementara Puigdemont dan empat menterinya memilih mengasingkan diri di Brussels sejak 30 Oktober 2017.

Baca juga : Presiden Tersingkir Catalonia Berpeluang Kembali?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.