Rusia Tuduh AS Pasok Senjata ke Pasukan Khusus Ukraina

Kompas.com - 19/01/2018, 15:40 WIB
Dua anggota Batalion Azov tengah melakukan latihan pertempuran di Manupol, Ukraina (6/2/2015). PETRO ZADOROZHNYY/AFPDua anggota Batalion Azov tengah melakukan latihan pertempuran di Manupol, Ukraina (6/2/2015).
|
EditorArdi Priyatno Utomo

MOSKWA, KOMPAS.com - Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina juga menyeret nama Amerika Serikat ( AS) ke dalamnya.

Sebab, seorang diplomat Rusia menuding Negara Paman Sam telah memasok persenjataan kepada pasukan khusus Ukraina yang bagi Kremlin dianggap sebagai "kelompok radikal".

Duta Besar Rusia untuk Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE), Alexander Lukashevich berujar, AS sengaja mendukung Ukraina untuk menyelesaikan konflik di Donbass.

Lukashevich menuturkan, dia menerima laporan bahwa Batalion Azov menerima misil anti-tank dengan pemandu optik (TOW) BGM-71.

Baca juga : Perang Terbuka di Bandara Donetsk, Setidaknya 30 Milisi Pro-Rusia Tewas

Batalion Azov merupakan detasemen khusus pasukan Ukraina yang didirikan pada 5 Mei 2014.

Detasemen itu awalnya merupakan kelompok paramiliter yang dibentuk saat Demonstrasi Pro-Rusia di Crimea dan Donbass.

"Berdasarkan data dari Dewan Atlantik, Batalion Azov dilaporkan membawa senjata TOW dan peralatan pengintaian buatan AS," kata Lukashevich saat rapat Dewan Permanen OSCE, seperti dilaporkan Russian Today Kamis (18/1/2018).

Selain itu, sejak awal 2018, Lukashevich menyebut drone Global Hawk, dan pesawat untuk misi pengintaian, P-8A, terlihat di wilayah konflik Donetsk dan Lugansk.

Diwartakan Russian Today, pada Desember 2017, Presiden AS Donald Trump telah menawarkan bantuan senjata kepada Ukraina.

Bantuan tersebut antara lain misil anti-tank, dan sistem penembak runduk M107A1 seharga 41,5 juta dolar AS, sekitar Rp 552,8 miliar.

Lukashevich melanjutkan, dengan mempersenjatai Batalion Azov, maka Ukraina bakal semakin dekat dengan perang saudara mematikan.

"AS dan negara yang membantu senjata telah terlibat dalam kejahatan perang yang dilakukan oleh rezim Kiev," kecam Lukashevich.

Konflik di Donbass yang pecah sejak 6 April 2014 telah berdampak 10.303 orang tewas, dan 24.778 terluka.

Selain itu, 1,4 juta orang Ukraina yang berada di wilayah Donetsk dan Luhansk harus mengungsi.

Baca juga : Helikopter Tempur Ukraina Serang Bandara Donetsk

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X