Kompas.com - 19/01/2018, 05:57 WIB
|
EditorAgni Vidya Perdana

MOSKWA, KOMPAS.com - Pemimpin oposisi Rusia, Alexey Navalny menyebut polisi telah melakukan penyerbuan dan menggeledah markas kampanyenya di Saint Petersburg.

"Saat ini penggeledahan sedang dilakukan di kantor kami di Saint Petersburg," tulis Navalny di akun Twitter-nya dengan menambahkan video polisi dan petugas tak berseragam bersama stafnya.

Navalny, yang telah dilarang keikutsertaannya dalam pemilu presiden Rusia 2018 menyerukan kepada para pemilih untuk melancarkan aksi boikot.

Dia dilarang mencalonkan diri terkait tuduhan melakukan penipuan, yang telah dibantahnya dan menyebutnya bermuatan politis.

Baca juga: Pengadilan Tinggi Rusia Tolak Banding Pemimpin Oposisi untuk Maju Pilpres

Koordinator kantor Navalny di Saint Petersburg menyebut polisi telah menyita sejumlah barang, mulai dari perangkat komputer, laptop dan material cetak.

"Mereka (polisi) mengatakan mendapat sinyal bahwa kami tengah menyebarkan selebaran pembangkangan. Itu lah yang menjadikan alasan penyitaan," kata Denis Mikhailov dari kantor kampanye Navalny di Saint Petersburg.

Sekretaris kampanye pers Navalny, Ruslan Shavedinnov mengatakan, tidak hanya kantor di Saint Petersburg yang didatangi polisi.

Setidaknya telah ada 11 kantor kampanye Navalny dari seluruh penjuru Rusia yang telah disambangi dan digeledah aparat.

"Dalam dua hari terakhir, telah ada 11 kantor yang digeledah petugas. Mereka menyita sejumlah perlengkapan dan juga selebaran yang mengajak untuk boikot," kata Shavedinnov kepada AFP.

Dia menambahkan, bahkan saat dirinya berbicara dengan AFP, polisi tengah mendatangi kantor kampanye di kota Izhevsk di wilayah Urals, yang mana merupakan kantor ke-12 yang digeledah.

Pihaknya menduga penggeledahan oleh polisi berkaitan dengan rencana aksi protes yang akan dilakukan kelompok Navalny pada 28 Januari mendatang.

Baca juga: Calon Presiden Rusia Ini Yakin Bisa Kalahkan Putin

Namun Navalny tidak gentar dan justru menyebut pemerintah menunjukkan keresahan akan adanya boikot oleh rakyat.

"Mereka takut dengan adanya boikot dari para voter. Itu menunjukkan jika ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Bergabunglah dengan kami," tulis Navalny dalam akun Twitter-nya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.