Sri Lanka Kembali Larang Perempuan Konsumsi Minuman Keras

Kompas.com - 15/01/2018, 09:02 WIB
Presiden Sri Lanka Maithripala SirisenaAFP/Ishara S Kodikara Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena

KOLOMBO, KOMPAS.com - Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena, Minggu (14/1/2018), kembali memberlakukan larangan mengonsumsi minuman keras untuk perempuan.

Larangan ini diberlakukan kembali hanya beberapa hari setelah Kementerian Keuangan Sri Lanka mencabut aturan yang sudah berlaku selama 60 tahun tersebut.

Sirisena mengatakan, dia sudah memerintahkan Menkeu Mangala Samaraweera untuk mencabut keputusannya pekan lalu mencabut undang-undang yang diterbitkan pada 1979 tersebut.

"Mulai Senin, keputusan menteri keuangan akan dicabut," demikian pernyataan resmi dari kantor Presiden Sirisena tanpa penjelasan lebih lanjut.

Baca juga : Dilarang 60 Tahun, Wanita Sri Lanka Kini Boleh Konsumsi Minuman Keras

Pencabutan ini sekaligus menghentikan niat kementerian keuangan Sri Lanka untuk menghapus aturan yang bias gender dari sistem hukum negeri itu.

"Ide pencabutan aturan ini adalah untuk menegakkan netralitas gender," ujar juru bicara Kementerian Keuangan  Ali Hassen pekan lalu.

Namun, keputusan tersebut memicu protes dari sebagian warga negara yang mayoritas dari 21 juta penduduknya memeluk agama Buddha.

Gerakan Nasional untuk Perlindungan Hak Konsumen menuding kementerian keuangan mendorong warga untuk mengonsumsi minuman keras dan mendesak Presiden Sirisena untuk melakukan intervensi.

Di bawah aturan baru yang sempat diterbitkan, bar dan pub diizinkan buka lebih lama dan larangan bagi perempuan untuk bekerja di bar, penyulingan alkohol, dan pabrik pembuat bir dicabut.

Namun kemudian, Presiden Sirisena memutuskan membatasi jam operasional bar atau pub. Sayangnya, dalam pernyataan resmi presiden tak dijelaskan apakah perempuan juga kembali dilarang bekerja di industri minuman keras.

Baca juga : Jual Minuman Keras, Wanita Ini Terancam Hukuman 60 Kali Cambuk

Larangan bagi perempuan membeli dan mengonsumsi minuman keras mulai diberlakukan pada 1979 untuk memenuhi keinginan kelompok Buddha konservatif.

Namun, Menkeu Smaraweera menilai, larangan ketat menjual minuman keras ini membuat subur pasar gelap dan mengurangi pendapatan negara.



EditorErvan Hardoko

Terkini Lainnya

Sampaikan Dukacita, Erdogan Sebut Morsi sebagai Martir

Sampaikan Dukacita, Erdogan Sebut Morsi sebagai Martir

Internasional
Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi Meninggal di Tengah Persidangan

Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi Meninggal di Tengah Persidangan

Internasional
Ledakan Misterius Terjadi di Perbatasan China dan Korea Utara

Ledakan Misterius Terjadi di Perbatasan China dan Korea Utara

Internasional
Dilanda Kekeringan, Namibia Bakal Jual 1.000 Satwa Liar

Dilanda Kekeringan, Namibia Bakal Jual 1.000 Satwa Liar

Internasional
Diundang Kim Jong Un, Xi Jinping Akan Kunjungi Korea Utara Pekan Ini

Diundang Kim Jong Un, Xi Jinping Akan Kunjungi Korea Utara Pekan Ini

Internasional
Protes Kekerasan oleh Pasien, Ribuan Dokter di India Gelar Aksi Mogok

Protes Kekerasan oleh Pasien, Ribuan Dokter di India Gelar Aksi Mogok

Internasional
Kisah Peluncuran 'Discovery STS-51G', Bawa Astronot Muslim Pertama

Kisah Peluncuran "Discovery STS-51G", Bawa Astronot Muslim Pertama

Internasional
Cadangan Uranium Iran Bakal Melebihi Batas pada 27 Juni

Cadangan Uranium Iran Bakal Melebihi Batas pada 27 Juni

Internasional
Viral soal Pengendara Tertib Berlalu Lintas di India, Ini Penjelasannya

Viral soal Pengendara Tertib Berlalu Lintas di India, Ini Penjelasannya

Internasional
Jumlah Hulu Ledak Nuklir di Dunia Dilaporkan Menurun tapi Lebih Modern

Jumlah Hulu Ledak Nuklir di Dunia Dilaporkan Menurun tapi Lebih Modern

Internasional
Pemerintah Saudi Tutup Kelab Malam 'Halal' di Hari Pembukaannya

Pemerintah Saudi Tutup Kelab Malam "Halal" di Hari Pembukaannya

Internasional
Otoritas Bangladesh Ubah Menu Sarapan di Penjara Setelah 200 Tahun

Otoritas Bangladesh Ubah Menu Sarapan di Penjara Setelah 200 Tahun

Internasional
Mencoba Trik Sulap Houdini, Pesulap Ini Malah Menghilang di Sungai

Mencoba Trik Sulap Houdini, Pesulap Ini Malah Menghilang di Sungai

Internasional
Presiden Brasil: Kriminalisasi Homofobia Justru Rugikan Kaum Gay

Presiden Brasil: Kriminalisasi Homofobia Justru Rugikan Kaum Gay

Internasional
Gelar Misa Perdana di Gereja Notre Dame, Uskup Agung Paris Pakai Helm Putih

Gelar Misa Perdana di Gereja Notre Dame, Uskup Agung Paris Pakai Helm Putih

Internasional

Close Ads X