Kompas.com - 11/01/2018, 13:47 WIB
Jurnalis Reuters, Wa Lone (tengah) dijaga polisi ketika tiba di pengadilan di Yangon, Myanmar, Rabu (10/1/2018). (AFP/Ye Aung Thu) Jurnalis Reuters, Wa Lone (tengah) dijaga polisi ketika tiba di pengadilan di Yangon, Myanmar, Rabu (10/1/2018). (AFP/Ye Aung Thu)
|
EditorVeronika Yasinta


YANGON, KOMPAS.com - Pengadilan Myanmar menuntut dua wartawan Reuters yang meliput krisis Rohingya atas tuduhan melanggar hukum kerahasiaan nasional.

Jurnalis asal Myanmar bernama Wa Lone dan Kyaw Soe Oo secara resmi dituntut oleh jaksa di Yangon, pada Rabu (10/1/2018) karena melanggar Undang-Undang Kerahasiaan Negara bentukan era kolonial, dengan hukuman maksimal 14 tahun penjara.

Dilansir dari Al Jazeera, Kementerian Informasi Myanmar menyatakan wartawan tersebut secara ilegal mendapatkan informasi dan dengan sengaja membaginya kepada media asing.

Keduanya dijebloskan ke bui pada 12 Desember 2017, setelah menghadiri jamuan makan dengan petugas kepolisian di pinggiran Yangon.

Baca juga : Militer Myanmar Akui Bunuh 10 Warga Rohingya Tertuduh Teroris

Mereka diduga memiliki dokumen rahasia yang berkaitan dengan insiden di negara bagian Rakhine.

"Kami tidak membuat kesalahan, mereka berusaha menghentikan kami dan mengintimidasi kami," kata Wa Lone, ketika keluar dari pengadilan sambil dijaga ketat oleh polisi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami akan menghadapi dakwaan yang dituduhkan terhadap kami," tambahnya.

Sebuah permintaan jaminan telah diajukan ke pengadilan yang akan diperiksa hakim pada sidang berikutnya pada 23 Januari 2018.

Baca juga : Militer Myanmar Tuduh Kelompok Militan Lukai Enam Tentara

Melaporkan pemberitaan terkait krisis Rohingya telah terbukti sangat sulit dilakukan oleh media asing yang dilarang untuk masuk ke area konflik dan jarang diberikan wawancara dnegan pejabat tinggi pemerintah.

Kepala organisasi pembela kebebasan pers, Reporters Without Borders, di Asia Pasifik, Daniel Bastard mengatakan kedua wartawan tersebut digunakan sebagai kambing hitam untuk mematikan laporan yang berani.

"Ini sangat mengkhawatirkan bagi kebebasan pers di Myanmar yang benar-benar menurun," katanya.

Baca juga : Myanmar Selidiki Kuburan Massal di Rakhine

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo bukanlah wartawan pertama yang didakwa oleh pengadilan dengan UU era kolonial dalam 12 bulan terakhir.

Pada 2017, 11 jurnalis dan satu informan media ditangkap di Myanmar. UU yang dibentuk pada 1908 dan 1934 digunakan untuk menahan mereka yang melaporkan konflik di Myanmar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Al Jazeera
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.