Tercemar dan Makin Menipis, Pakistan Kekurangan Persediaan Air

Kompas.com - 08/01/2018, 18:36 WIB
Warga Pakistan mengisi balon dengan air di sebuah penyulingan air di Islamabad, 14 Desember 2017. Ketersediaan air di negara tersebut semakin menipis dengan air yang ada kebanyakan telah terkontaminasi bakteri. Farooq Naeem / AFPWarga Pakistan mengisi balon dengan air di sebuah penyulingan air di Islamabad, 14 Desember 2017. Ketersediaan air di negara tersebut semakin menipis dengan air yang ada kebanyakan telah terkontaminasi bakteri.
|
EditorAgni Vidya Perdana

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Setiap tahun, hingga 53.000 anak-anak Pakistan meninggal dunia akibat diare dan kekurangan air bersih. Data Badan Urusan PBB untuk Anak-anak (UNICEF) menyatakan dua pertiga keluarga di negara itu mengonsumsi air yang terkontaminasi bakteri.

Dikutip dari AFP, Senin (8/1/2018), penyakit tipoid, kolera, disentri dan hepatitis masih merajalela di negara itu. Menurut data PBB dan otoritas Pakistan, hampir 40 persen penyakit mematikan di seluruh negeri berkaitan dengan buruknya kualitas air.

Diperlukan anggaran triliunan rupiah untuk memperbaiki masalah sanitasi di Pakistan. Pada 2012, Bank Dunia telah memperingatkan akan besarnya investasi yang diperlukan.

Mereka memperkirakan untuk mengatasi pencemaran air di Pakistan akan memakan biaya hingga 5,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 76,5 triliun).

Baca juga: AS Ancam Bakal Hentikan Anggaran Bantuan untuk Pakistan

Salah satu anak Pakistan, Kinza sudah 15 hari dirawat di rumah sakit karena diare dan infeksi. Dia menjadi satu dari ribuan orang korban buruknya pencemaran air di negara itu.

Ibunya, Sartaj tidak mengerti kenapa putrinya bisa mengalami sakit parah. "Padahal setiap saat saya selalu merebus air untuk minum," ujarnya kepada AFP.

Sartaj dan keluarganya adalah sebagian dari warga Pakistan yang menggantungkan persediaan airnya dari sebuah sungai di Islamabad, yang kerap kali telah tercampur limbah. Merebus airnya tidak akan banyak membantu mengurangi bahaya dari mengonsumsinya.

Di Lahore, kondisinya bahkan lebih berbahaya dari Islamabad. Penduduk di kota terbesar kedua di Pakistan itu banyak yang menggantungkan persediaan air dari sungai Ravi.

Sungai tersebut juga menjadi tumpuan ratusan pabrik di bagian hulu, serta mengairi perkebunan dengan pestisida di sepanjang sungai.

Baca juga: Pemerintah Pakistan Tutup 27 Lembaga Non-pemerintah

Tak hanya tercemar, persediaan air di Pakistan juga terus menipis. Dengan jumlah populasi yang akan menjadi lima kali lipat dari 207 juta penduduk di 1960, persediaan air di negara itu akan mencapai tingkat kelangkaan mutlak pada 2025.

"Air menjadi masalah utama di negara ini," kata Profesor Javed Akram, Wakil Rektor Institut Ilmu Kesehatan Pakistan di Islamabad.



Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X