Filipina Selidiki Penyebab Kematian 14 Anak Diduga Terkait Vaksin DBD

Kompas.com - 05/01/2018, 21:34 WIB
Warga Filipina melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Departemen Kesehatan di Manila, Selasa (5/12/2017). TED ALJIBE / AFPWarga Filipina melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Departemen Kesehatan di Manila, Selasa (5/12/2017).
|
EditorAgni Vidya Perdana

MANILA, KOMPAS.com - Pemerintah Filipina tengah menyelidiki kasus kematian 14 anak yang diduga memiliki keterkaitan dengan vaksin demam berdarah.

Vaksin demam berdarah yang disebut Dengvaxia tersebut sempat diberikan pada anak-anak Filipina dengan cara imunisasi massal. Lebih dari 800.000 anak sekolah telah menerima vaksin tersebut pada tahun lalu

Namun kemudian, Sanofi, produsen vaksin yang berpusat di Perancis, mengeluarkan pengumuman bahwa pemberian vaksin tersebut dapat memperburuk gejala pada orang yang belum pernah terinfeksi.

Baca juga: Filipina Tangguhkan Program Vaksin DBD

Bersamaan dengan pengumuman tersebut, muncul kabar 14 anak yang mendapat suntikan vaksin Dengvaxia meninggal dunia. Meski belum ada bukti langsung yang mengarahkan vaksin sebagai penyebab kematian.

Pemerintah Filipina lantas memutuskan menghentikan distribusi dan penjualan vaksin Dengvaxia di masyarakat sejak Desember 2017. Pemerintah juga menuntut pertanggungjawaban Sanofi.

Sanofi telah melakukan klarifikasi dan bersikeras vaksin tersebut tidak berbahaya apalagi menyebabkan kematian.

Pemerintah Filipina pun menunjuk panel ahli independen untuk meninjau kasus tersebut dengan harapan mendapat hasil dalam satu dua pekan ke depan.

"Dua hal yang kami ingin ketahui, pertama menurut mereka apa yang menjadi penyebab kematian anak-anak tersebut dan kedua apakah menurut mereka kematian itu berkaitan dengan vaksinasi," kata Asisten Menteri Kesehatan Filipina Enrique Domingo, dikutip AFP, Jumat (5/1/2018).

Baca juga: Efek Vaksin DBD Bisa Berbahaya, Ini Penjelasan WHO dan IDAI

Laporan yang diterima kementerian sebelumnya, empat dari 14 kematian anak tersebut disebabkan demam berdarah, sementara sisanya karena lupus dan meningococcemia. Diharapkan jawaban dari panel ahli dapat memastikan laporan itu.

"Kita harus mengawasi 837.000 siswa yang telah divaksinasi dan bagi kami inilah yang terpenting," kata Menteri Kesehatan Francisco Duque.

Pemerintah sebelumnya juga telah menuntut pengembalian stok Dengvaxia yang tidak terpakai senilai 30 juta dolar AS (sekitar Rp 402 miliar).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

China Tuduh AS Berusaha 'Menghancurkan' Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

China Tuduh AS Berusaha "Menghancurkan" Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

Internasional
Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Internasional
Sandera 3 Nelayan Indonesia, Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 8 Miliar

Sandera 3 Nelayan Indonesia, Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 8 Miliar

Internasional
Jalankan Bisnis Penipuan Online dari Penjara, Napi Ini Raup Rp 14 Miliar

Jalankan Bisnis Penipuan Online dari Penjara, Napi Ini Raup Rp 14 Miliar

Internasional
Pelatih Kebugaran Meksiko Ini Ditemukan Tewas Ditembak dan Ditikam di Rumahnya

Pelatih Kebugaran Meksiko Ini Ditemukan Tewas Ditembak dan Ditikam di Rumahnya

Internasional
Kim Jong Un Tolak Undangan dari Presiden Korea Selatan

Kim Jong Un Tolak Undangan dari Presiden Korea Selatan

Internasional
Didesak Indonesia, DK PBB Keluarkan Status Ilegal Pemukiman Israel di Palestina

Didesak Indonesia, DK PBB Keluarkan Status Ilegal Pemukiman Israel di Palestina

Internasional
Video Ungkap Momen Polisi Selamatkan Bocah 8 Tahun yang Diculik

Video Ungkap Momen Polisi Selamatkan Bocah 8 Tahun yang Diculik

Internasional
Berkunjung ke Thailand, Paus Fransiskus Temui Pemimpin Tertinggi Agama Buddha

Berkunjung ke Thailand, Paus Fransiskus Temui Pemimpin Tertinggi Agama Buddha

Internasional
Akhirnya, DPR AS Sahkan UU Mendukung HAM dan Demokrasi Hong Kong

Akhirnya, DPR AS Sahkan UU Mendukung HAM dan Demokrasi Hong Kong

Internasional
Trump Disebut Perintahkan Tekan Ukraina untuk Selidiki Joe Biden

Trump Disebut Perintahkan Tekan Ukraina untuk Selidiki Joe Biden

Internasional
Takut Harga Minyak Naik, Trump Tak Menentang Putra Mahkota Saudi soal Pembunuhan Khashoggi

Takut Harga Minyak Naik, Trump Tak Menentang Putra Mahkota Saudi soal Pembunuhan Khashoggi

Internasional
Israel Gelar 'Serangan Skala Besar' terhadap Iran di Suriah

Israel Gelar "Serangan Skala Besar" terhadap Iran di Suriah

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah | Pria 74 Tahun Ceraikan Istri 21 Tahun

[POPULER INTERNASIONAL] Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah | Pria 74 Tahun Ceraikan Istri 21 Tahun

Internasional
Gajah Bernama Osama bin Laden Ini Mati Setelah Injak 5 Orang hingga Tewas

Gajah Bernama Osama bin Laden Ini Mati Setelah Injak 5 Orang hingga Tewas

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X