Macron Usulkan UU Lawan Hoaks Selama Masa Pilpres

Kompas.com - 04/01/2018, 12:47 WIB
Presiden Perancis Emmanuel Macron berbicara di depan duta besar negara sahabat di Istana Kepresidenan Elysee, Selasa (29/8/2017) AFP PHOTOPresiden Perancis Emmanuel Macron berbicara di depan duta besar negara sahabat di Istana Kepresidenan Elysee, Selasa (29/8/2017)
|
EditorVeronika Yasinta
hoaks

hoaks!

Berdasarkan verifikasi Kompas.com sejauh ini, informasi ini tidak benar.


PARIS, KOMPAS.com - Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Rabu (3/1/2018) mengatakan bakal mengajukan undang-undang baru untuk melawan pemberitaan online yang palsu atau hoaks dalam kontes pemilihan presiden yang akan datang.

"Kami akan merancang undang-undang untuk melindungi demokrasi melawan pemberitaan palsu," katanya, seperti dikutip dari Deutsche Welle.

"Jika kami ingin melindungi demokrasi liberal, kami harus memiliki legislasi yang kuat," tambahnya.

Macron secara tegas mengkritisi media Rusia yang diduga menyebarkan informasi keliru saat pemilihannya pada Mei 2017.

Baca juga : Para Menteri Sedang Rapat, Anjing Presiden Macron Datang Lalu Pipis

Presiden berusia 40 tahun itu mengatakan media Rusia, RT  dan Sputnik, menerbitkan berita fitnah dan propaganda saat mengikuti konferensi pers dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah pemungutan suara pilpres Perancis dilakukan.

Macron menjanjikan rincian RUU tersebut dalam beberapa pekan ke depan. Namun, dia menggarisbawahi adanya kemungkinan akses bagi hakim untuk menanggapi konten online palsu dengan segera menghapusnya, menutup akun terkait, atau memblokir situs.

Platform online diharuskan lebih transparan mengenai konten yang disponsori secara eksternal. Media dengan sponsor tertentu juga akan ditutup.

Pengawas media audiovisual Perancis juga diberi wewenang untuk melawan upaya destabilisasi oleh saluran televisi yang dikendalikan atau dipengaruhi oleh negara asing.

Baca juga : Tingkat Popularitas Presiden Macron Terus Turun, Ada Apa?

Macron akan mendiskusikan kebijakan ini dengan pers. Dia meyakini langkah-langkah yang diusulkannya tidak akan membahayakan kebebasan pers, karena diberlakukan selama kampanye pilpres.

"Tidak ada kebebasan pers yang harus dipertanyakan dalam UU ini," ucapnya.

Rencana Macron disampaikan menyusul anggota parlemen Jerman yang menerbitkan UU anti-hoaks.

Dalam aturan itu, pihak berwenang dapat mendenda jaringan media sosial hingga 60 juta dolar AS atau Rp 806,5 miliar karena gagal menghapus informasi palsu atau ujaran kebencian dengan cepat.

HOAKS ATAU FAKTA?

Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini

closeLaporkan Hoaks checkCek Fakta Lain
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Internasional
Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran 'Pertukaran Saksi'

Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran "Pertukaran Saksi"

Internasional
Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Internasional
Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

Internasional
Ibu di India Ini Jual Rambut Rp 28.000 demi Beri Makan 3 Anaknya

Ibu di India Ini Jual Rambut Rp 28.000 demi Beri Makan 3 Anaknya

Internasional
Berhubungan Seks Saat Jam Kerja, Polisi di New York Ini Dipindahtugaskan

Berhubungan Seks Saat Jam Kerja, Polisi di New York Ini Dipindahtugaskan

Internasional
Korban Meninggal Virus Corona di China Bertambah Jadi 9 Orang, Disebut Bisa Bermutasi

Korban Meninggal Virus Corona di China Bertambah Jadi 9 Orang, Disebut Bisa Bermutasi

Internasional
Debat Lebih dari 12 Jam, Senat AS Setujui Aturan Sidang Pemakzulan Trump

Debat Lebih dari 12 Jam, Senat AS Setujui Aturan Sidang Pemakzulan Trump

Internasional
Pengakuan Pengantin Pesanan di China: 2 Kali Menikah, Sering Dipukuli

Pengakuan Pengantin Pesanan di China: 2 Kali Menikah, Sering Dipukuli

Internasional
Putra Mahkota MBS Dituding Retas Ponsel Jeff Bezos, Arab Saudi Beri Jawaban

Putra Mahkota MBS Dituding Retas Ponsel Jeff Bezos, Arab Saudi Beri Jawaban

Internasional
Permalukan Orang Pakai Piyama di Jalan, Kota di China Meminta Maaf

Permalukan Orang Pakai Piyama di Jalan, Kota di China Meminta Maaf

Internasional
Putra Mahkota Arab Saudi Disebut Retas Ponsel Orang Terkaya Dunia pada 2018

Putra Mahkota Arab Saudi Disebut Retas Ponsel Orang Terkaya Dunia pada 2018

Internasional
Kisah Pengantin Pesanan China: Anak Saya Diejek Anak Pelacur

Kisah Pengantin Pesanan China: Anak Saya Diejek Anak Pelacur

Internasional
Keluarga Editor Mongabay Philip Jacobson yang Ditahan di Indonesia Sudah Diberi Tahu

Keluarga Editor Mongabay Philip Jacobson yang Ditahan di Indonesia Sudah Diberi Tahu

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X