Khawatir Dipakai Perang, Norwegia Hentikan Ekspor Senjata ke UEA - Kompas.com

Khawatir Dipakai Perang, Norwegia Hentikan Ekspor Senjata ke UEA

Kompas.com - 03/01/2018, 20:17 WIB
Salah seorang warga Yaman berjalan di dekat lokasi reruntuhan akibat serangan udara yang dilancarkan koalisi pimpinan Arab Saudi di kota Aser, selatan ibu kota Sanaa, pada Senin (25/12/2017).Mohammed Huwais / AFP Salah seorang warga Yaman berjalan di dekat lokasi reruntuhan akibat serangan udara yang dilancarkan koalisi pimpinan Arab Saudi di kota Aser, selatan ibu kota Sanaa, pada Senin (25/12/2017).

OSLO, KOMPAS.com - Pemerintah Norwegia telah resmi menghentikan pengiriman persenjataan dan amunisi ke Uni Emirat Arab ( UEA). Keputusan itu diambil lantaran khawatir senjata dan amunisi yang mereka kirim akan digunakan dalam peperangan di Yaman.

"Perkembangan konflik bersenjata di Yaman pada akhir 2017 telah menjadi semakin serius, sehingga muncul kekhawatiran akan adanya situasi kemanusiaan," kata Menteri Luar Negeri Norwegia dalam sebuah pernyataan, Rabu (3/1/2018).

Meski belum tidak bukti yang menunjukkan senjata asal Norwegia telah digunakan dalam peperangan di Yaman, upaya pencegahan perlu dilakukan demi menghilangkan risiko tersebut.

Baca juga: Koalisi Arab Klaim Sita Senjata Iran dari Pemberontak Houthi

Uni Emirat Arab merupakan bagian dari koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi. Sementara koalisi tersebut telah terlibat dalam pertempuran di Yaman sejak 2015.

Perang di Yaman antara koalisi Arab melawan kelompok Houthi yang didukung Iran dan menguasai sebagian besar wilayah utara negara itu, termasuk ibu kota Sanaa.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jumlah korban jiwa akibat perang di Yaman telah mencapai lebih dari 8.750 orang, termasuk di antaranya warga sipil dan menyebabkan lebih dari 3 juta warga mengungsi.

Penghentian pengiriman senjata sebenarnya telah diberlakukan sejak 19 Desember 2017 lalu dan tidak ada izin baru yang dikeluarkan saat ini.

Di 2016, ekspor senjata Norwegia ke UEA meningkat menjadi 9,7 juta dolar AS (sekitar Rp 130,5 miliar) atau hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2015.

Baca juga: Houthi Paksa Warga Sipil di Yaman untuk Berperang


EditorAgni Vidya Perdana
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X