Kompas.com - 02/01/2018, 22:53 WIB
|
EditorArdi Priyatno Utomo

NEW DELHI, KOMPAS.com - Dokter di seantero India dilaporkan menggelar mogok massal Selasa (2/1/2018).

Penyebabnya, pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi berencana mengesahkan sebuah undang-undang yang dianggap kontroversial.

Dalam undang-undang tersebut, pakar pengobatan alternatif bisa menggelar praktek layaknya dokter konvensional.

Homeopathy dan ayurveda, sebuah pengobatan tradisional India, bisa mendapat izin praktek sebagai dokter setelah menyelesaikan "kursus" yang diberikan pemerintah dalam durasi waktu tertentu.

India dilaporkan memiliki 800.000 praktisi pengobatan tradisional yang kini diizinkan membuat resep obat.

Baca juga : Dokter Bedah Ini Akui Buat Inisial Namanya di Organ Hati Dua Pasien

Dilaporkan kantor berita AFP, lebih dari 300.000 dokter swasta maupun yang bekerja di rumah sakit pemerintah menghentikan layanan kesehatan mereka.

Aksi mereka membuat parlemen India memutuskan menunda meloloskan peraturan tersebut.

Presiden Asosiasi Dokter India, KK Agarwal menyatakan, langkah tersebut bakal mendatangkan bencana bagi pasien.

"Peraturan ini anti-pasien, anti-dokter, tidak rasional, dan tidak ilmiah," kecam Agarwal.

Lebih lanjut, AFP mewartakan Modi mempunyai pertimbangan untuk meloloskan undang-undang tersebut.

Di India, terdapat 840.000 dokter untuk menangani sekitar 1,25 miliar jiwa penduduk India.

Artinya, satu dokter menangani 1.674 pasien. Jumlah tersebut melebihi anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan idealnya satu dokter merawat 1.000 pasien.

Asosiasi Dokter India dikabarkan bakal segera menghentikan aksi mereka setelah Menteri Hubungan Parlemen, Ananth Kumar, berujar undang-undang tersebut bakal mendengarkan keluhan para dokter.

Sementara itu, meski dokter di India menggelar aksi mogok, AFP memberitakan bagian rawat darurat di rumah sakit tidak terkena dampaknya.

Baca juga : Dokter yang Diganjar Hukuman Mati di Iran Akui Jadi Mata-mata Israel

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.