Kompas.com - 26/12/2017, 19:21 WIB
|
EditorAgni Vidya Perdana

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Seorang terpidana mati atas kasus spionase asal India mendapat kesempatan bertemu dengan keluarganya. Kesempatan yang jarang diberikan oleh otoritas Pakistan itu dilakukan di kantor kementerian luar negeri pada Senin (25/12/2017).

Kulbushan Sudhir Jadhav akhirnya diberi kesempatan bertemu keluarganya untuk kali pertama sejak ditangkap di provinsi Balochistan pada tahun lalu.

Dalam pertemuan selama kurang lebih 40 menit itu, Jadhav diizinkan bertemu dengan ibu dan istrinya. Meskipun pertemuan itu dilakukan dengan dibatasi kaca penghalang dan dalam pengawalan ketat petugas.

Baca juga: Ukraina Tangkap Penerjemah PM karena Menjadi Mata-mata Rusia

Seorang diplomat India juga hadir dalam pertemuan keluarga itu, namun dilarang berbicara maupun mendengarkan percakapan antara Jadhav dengan istri dan ibunya.

Pertemuan tersebut juga direkam dalam video yang dirilis kemudian oleh kementerian luar negeri. Namun kualitas gambar cukup rendah sehingga tidak jelas bagaimana kondisi Jadhav yang saat pertemuan mengenakan jas biru itu.

Sementara pejabat Pakistan memastikan jika Jadhav dalam keadaan sehat. Demikian dilansir dari Arab News, Selasa (26/12/2017).

Pejabat Pakistan juga mengklaim jika Jadhav telah mengakui melakukan tindakan mata-mata untuk intelijen India.

Juru bicara kantor luar negeri, dalam pernyataannya pada Senin (25/12/2017), menyebut Jadhav sebagai wajah terorisme India di Pakistan.

Jadhav telah dinyatakan bersalah dalam persidangan tertutup oleh pengadilan militer Pakistan dan dijatuhi hukuman mati.

Pemerintah telah berupaya mengintervensi dengan menghubungi Pengadilan Internasional, yang kemudian memerintahkan Pakistan menunda eksekusi hingga didapat keputusan final atas kasus itu.

New Delhi juga menegaskan jika Jadhav bukanlah mata-mata. Mereka bahkan menyebut Pakistan telah menculik Jadhav dan menuduh Islamabad melakukan pelanggaran terhadap Konvensi Vienna dengan menolak akses konselor.

Baca juga: Pemerintah Pakistan Tutup 27 Lembaga Non-pemerintah

Hubungan antara India dan Pakistan memang menjadikan kerap terjadi saling tuduh terkait mata-mata. Kedua negara juga seringkali saling mengusir duta besar atas tuduhan melakukan spionase. Namun pemberian hukuman mati masih jarang terjadi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Arab News
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.