Kompas.com - 23/12/2017, 17:45 WIB
|
EditorVeronika Yasinta

Keinginan Akihito untuk meninggalkan takhta tersebut menghidupkan kembali perdebatan tentang monarki berusia 2.000 tahun di negara itu, termasuk peningkatan status perempuan dari anggota kerajaan dengan populasi yang menyusut ini.

Aturan saat ini melarang perempuan untuk menggantikan takhta kaisar. Perempuan juga bisa kehilangan status kerajaan mereka ketika menikahi orang biasa.

Baca juga : Puteri Kako, Cucu Kaisar Jepang Akihito Lanjutkan Studi ke Inggris

Berbeda dengan ayahnya yang disembah sebagai dewa sampai akhir Perang Dunia II, Akihito telah mengabdikan dirinya untuk menjadi sosok simbolis seperti yang didefinisikan dalam konstitusi damai Jepang pasca perang.

Kaisar Jepang terakhir yang memilih untuk turun takhta terjadi pada 200 tahun yang lalu, Kaisar Kokaku pada 1817.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.