Erdogan Ingin Dirikan Kedubes untuk Palestina di Yerusalem Timur

Kompas.com - 18/12/2017, 08:52 WIB
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. ADEM ALTAN / AFP Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.
EditorVeronika Yasinta


ANKARA, KOMPAS.com — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan keinginan Turki membuka kedutaan besar untuk Palestina di Yerusalem Timur.

Dalam pidatonya di depan anggota partai berkuasa, Minggu (17/12/2017), dia kembali mengecam Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Karena berada di bawah pendudukan, kami tidak bisa pergi ke sana dan membuat kedutaan. Namun, kami secara resmi akan membuka kedutaan di sana (Yerusalem Timur)," katanya seperti dilansir dari BBC Indonesia.

Turki memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Sama seperti negara lain, Turki memiliki kedutaan besar di Tel Aviv.

Baca juga: Erdogan Desak Dunia Akui Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina

Di Yerusalem, Pemerintah Turki memiliki kantor konsuler, sama seperti AS sebelum Presiden Trump menetapkan kota suci bagi tiga agama itu sebagai ibu kota Israel.

Saat mengungkapkan keinginan membuka kedutaan di Yerusalem, Erdogan juga mengatakan, Israel tidak punya hak untuk Yerusalem. Kota itu dianggapnya pantas sebagai ibu kota Palestina.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pekan lalu, Turki menjadi tuan rumah KTT luar biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk menanggapi keputusan Trump.

Para pemimpin Islam di KTT yang digelar di Istanbul mendesak dunia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.

Baca juga: Apakah Erdogan Bakal Memutuskan Hubungan Diplomatik dengan Israel?

Erdogan menyambut baik seruan dari KTT OKI pada Rabu (13/12/2017). Namun, pertemuan itu dinilai kurang bermakna karena tidak dihadiri pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir, yang merupakan kekuatan penting di Timur Tengah dan sekutu AS.

Di Yerusalem Timur terdapat tempat suci bagi umat Yahudi, Kristen, dan Islam. Berdasarkan kesepakatan Oslo 1993, keputusan atas Yerusalem akan ditetapkan di kemudian hari pada tahap akhir perundingan damai Israel-Palestina.

Keputusan Trump dianggap berbagai pihak menghambat perundingan damai tersebut dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas sudah menyerukan agar AS tidak diberi peran lagi dalam perundingan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X