Kompas.com - 09/12/2017, 19:45 WIB
Para pengungsi Rohingya berjalan menyusuri daerah tak bertuan antara Bangladesh dan Myanmar di kawasan Palongkhali. Foto ini diambil pada 19 Oktober 2017. Munir UZ ZAMAN / AFP Para pengungsi Rohingya berjalan menyusuri daerah tak bertuan antara Bangladesh dan Myanmar di kawasan Palongkhali. Foto ini diambil pada 19 Oktober 2017.
|
EditorArdi Priyatno Utomo

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Organisasi kemanusiaan dunia mengancam bakal memboikot segala bentuk kegiatan kemanusiaan di Myanmar pasca-mendengar kabar terbaru mengenai masa depan etnis Rohingya.

Sebelumnya, pada 23 November, Myanmar dan Bangladesh menandatangani nota kesepahaman mengenai pemulangan Rohingya.

Sejak Myanmar menggelar operasi militer 25 Agustus, 620.000 warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Mereka mengungsi di kamp Kutupalong, kamp pengungsi terbesar di Distrik Cox's Bazaar.

Dalam nota kesepahaman tersebut, Bangladesh dan Myanmar berjanji bakal melakukan proses pemulangan Rohingya selama dua bulan ke depan.

Baca juga : Dijual, Perempuan Rohingya Jadi Budak Seks di Bangladesh

Namun, dalam keterangan persnya, pemerintah Bangladesh menyatakan para pengungsi Rohingya bakal ditempatkan di penampungan sementara di negara bagian Rakhine.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam pernyataan bersama organisasi kemanusiaan dunia, seperti dilansir AFP Sabtu (9/12/2017), mereka begitu fokus pada isu Rohingya yang dibawa ke penampungan sementara.

Organisasi kemanusiaan sangat khawatir. Sebab, mereka berkaca dari kasus 100.000 etnis Rohingya yang menghuni kamp penampungan yang sangat kumuh sejak 2012.

Organisasi seperti Save the Children dan Oxfam menuntut pemerintahan Aung San Suu Kyi agar mengizinkan Rohingya kembali ke tempat tinggal asal mereka.

"Tidak boleh ada bentuk kamp pengungsian lagi. Jika mereka (Myanmar) nekat membawa Rohingya ke sana, kami dari organisasi kemanusiaan tidak akan bekerja di sana," demikian pernyataan bersama itu disuarakan.

Sejak Undang-undang Kewarganegaraan Myanmar mengalami perubahan pada 1982, Rohingya tidak diakui sebagai etnis Myanmar.

Mereka dianggap Bengalis, atau imigran ilegal asal Bangladesh.

Baca juga : Akhirnya, Paus Fransiskus Ucapkan Rohingya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Sumber AFP
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.