Karim Raslan
Pengamat ASEAN

Karim Raslan adalah kolumnis dan pengamat ASEAN. Dia telah menulis berbagai topik sejak 20 tahun silam. Kolomnya  CERITALAH, sudah dibukukan dalam "Ceritalah Malaysia" dan "Ceritalah Indonesia". Kini, kolom barunya CERITALAH ASEAN, akan terbit di Kompas.com setiap Kamis. Sebuah seri perjalanannya di Asia Tenggara mengeksplorasi topik yang lebih dari tema politik, mulai film, hiburan, gayahidup melalui esai khas Ceritalah. Ikuti Twitter dan Instagramnya di @fromKMR

Kebangkitan Xi Jinping, Ketika Nostalgia Kekaisaran "Menyihir" Asia Tenggara

Kompas.com - 07/12/2017, 20:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorAmir Sodikin

Sebagian besar dinasti Tiongkok cenderung bergerak ke dalam, terutama menjelang akhir zaman mereka.

Apa pun pengaruh China di Asia Tenggara tentu saja dapat dikatakan masih kalah dibandingkan perjalanan penjajahan yang dilakukan negara Barat.

Hal yang juga sangat signifikan ketika Revolusi tahun 1911, yang menggulingkan dinasti Qing dan monarki China didukung penuh oleh Orang China rantauan di Asia Tenggara ketika banyak di antaranya yang datang ke sana setelah Qing dipermalukan dalam Perang Opium (1839-1842 dan 1856 -1860) dan Pemberontakan Taiping (1850-1871).

Intinya adalah Asia Tenggara tidak ingin adanya hegemoni. Kita lebih memilih China yang kuat tetapi masih sedikit terganggu oleh urusan internalnya sendiri.

Dengan begitu, kita di Asia Tenggara dapat memainkan “Kekuatan Besar” satu sama lain. Kita ingin mereka bersaing untuk mendapatkan dukungan dan perhatian kita, bukan sebaliknya.

Tidak ada yang dapat menyangkal adanya kebutuhan untuk melibatkan China secara ekonomi, politik dan budaya.

Tetapi keberadaan Xi Jinping yang kuat dan keberanian China bukanlah suatu hal yang diinginkan Asia Tenggara.

Para pengagum Xi yang ingin sekali memanggilnya sebagai "Yongzheng baru" juga harus ingat bahwa pemerintahan Kaisar Qing menandai titik balik dalam sejarah China, sebagaimana Middle Kingdom ini terjatuh di bawah kebijakan sesat yang dimulai saat zamannya.

Jadi sementara China tampaknya sedang maju sekarang, namun sandungan lain mungkin dapat menjatuhkannya terutama jika krisis utang dan ketidaksetaraan pendapatan domestik masih tidak terselesaikan.

Sambil menengok sejarah, mungkin itu bukan hal yang buruk untuk Asia Tenggara setelah semua yang telah dilakukan oleh China.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.