Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 07/12/2017, 16:11 WIB
Ardi Priyatno Utomo

Penulis

Sumber AFP

JERUSALEM TIMUR, KOMPAS.com - Pemimpin organisasi sayap militer Palestina, Hamas, menyerukan kepada seluruh rakyat Palestina agar menggelar Intifada kepada Israel.

Pernyataan ini sebagai reaksi atas keputusan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Ismail Haniya berujar, kebijakan Israel yang mendapat dukungan AS tidak bisa merek lawan.

"Kecuali jika kami melakukan Intifada baru," tegas Haniya dikutip kantor berita AFP Kamis (7/12/2017).

Intifada berasal dari Bahasa Arab yang berarti "membuat gemetar".

Kata ini sering dipakai untuk menggambarkan perlawanan senjata terhdap pihak penindas. Dalam terjemahan bebas Inggris, Intifada sering diartikan sebagai "Pemberontakan".

Baca juga : Delapan Negara Desak Dewan Keamanan PBB Bertemu Bahas Jerusalem

Konsep Intifada pertama kali digunakan di Irak pada 1952 silam.

Saat itu, kaum Sosialis dan Komunis turun ke jalan, memprotes Monarki Hashemite. Saat itu, Irak terinspirasi dari Revolusi Mesir.

Dalam sejarah konflik Palestina dan Israel, Intifada berarti perjuangan dalam skala besar untuk mengusir Israel yang dianggap melakukan penjajahan.

Intifada itu kebanyakan terjadi di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Intifada Pertama yang dilakukan Palestina terjadi Desember 1987 sampai 1993. Intifada itu memakan korban 1.962 rakyat Palestina, dan 277 orang Israel.

Konflik yang memakan waktu lima tahun dan sembilan bulan itu berakhir sukses dengan Perjanjian Oslo I yang mengakui Palestina sebagai negara.

Sementara Intifada Kedua terjadi pada 28 September 2008 sampai 8 Februari 2005. Konflik ini memakan korban hingga 6.000 jiwa dari kedua belah negara.

Akhir dari Intifada Kedua ini adalah konstruksi Israel terhadap perbatasan di Tepi Barat, dan penarikan militer Israel dari Jalur Gaza.

Setelah itu, konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel berlangsung dalam skala lebih kecil. Misalnya saja "Jerusalem Intifada" yang terjadi awal September 2015.

Dalam "Jerusalem Intifada", total 273 orang, baik Palestina dan Israel, tewas.

Baca juga : Trump Akui Kedaulatan Israel dengan Ibu Kota Jerusalem

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com