Kompas.com - 30/11/2017, 15:55 WIB
|
EditorArdi Priyatno Utomo

BEIJING, KOMPAS.com - Demi menghentikan provokasi Korea Utara (Korut), Amerika Serikat (AS) menyerukan komunitas internasional untuk memutus hubungan dengan mereka.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, sempat berucap Presiden Donald Trump telah meminta Presiden China, Xi Jinping, agar memutus pasokan minyak ke Korut.

Namun, sejumlah analis berkata sangat kecil kemungkinan Xi bakal menuruti permintaan Trump.

Pengamat dari Institut Kebijakan Masyarakat Asia, Daniel Russel, mengatakan China sangat takut jika Korut tidak menerima pasokan minyak mereka.

Dalam analisa Russel, rezim Kim Jong Un bakal jatuh jika pasokan minyak terhenti.

Tatkala pemerintahan komunis itu jatuh, maka Korut bakal berada dalam kekacauan. Akibatnya, masyarakat Korut bakal berbondong-bondong keluar dari negerinya.

Baca juga : AS: Jika Terjadi Perang, Korea Utara Akan Hancur Lebur

Perbatasan China menjadi destinasi yang paling dituju rakyat Korut.

"Pemerintah China jelas kewalahan menangani pengungsi sebanyak itu," tutur Russel dilansir dari kantor berita AFP Kamis (30/11/2017).

Selain itu, meski saat ini berhubungan dengan Washington, Xi melihat Korut masih menjadi "andalan" untuk membendung dominasi AS di Asia Timur.

"Saya rasa, Xi bakal sengaja lambat bertindak untuk menghindari kekacauan di kawasan semenanjung, bukan karena adanya misil balistik antar-benua (ICBM)," beber Russel.

Senada dengan Russel, pengamat Korea dari Institut Charhar China, Wang Peng, menyatakan China sedang "mengembalikan bola kepada AS".

Beijing, ujar Wang, jelas tidak suka dengan Jong Un. Namun, mereka bakal lebih tidak bahagia jika pemerintahannya sampai kolaps.

"Saya kira Beijing tidak akan mampu menangani reaksi berantai dan konsekuensi jika mereka sampai berani memutus minyak Korut," papar Wang.

Dinas Informasi Energi AS memperkirakan, Korut mengonsumsi 15.000 minyak setiap harinya.

Minyak mentah itu disalurkan dari Dandong ke depo minyak Sinuiju melalui Sungai Yalu via pipa sepanjang 30 kilometer.

Pipa yang beroperasi sejak 1975 itu diberi nama "Pipa Persahabatan Sino dan DPRK (nama resmi Korut)".

Wang melanjutkan, kebanyakan minyak yang diekspor dari China digunakan untuk kebutuhan militer.

Antara lain pengembangan senjata nuklir maupun kebutuhan operasional kendaraan perang Korut.

"Saya meragukan jika ada rakyat jelata yang bisa menikmati minyak tersebut," ungkap Wang.

Baca juga : Indonesia Kecam Uji Coba Rudal Korut

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
STAND UP COMEDY INDONESIA
Kompilasi Stand Up Babe Cabita, Ah Sudahlaahhh~
Kompilasi Stand Up Babe Cabita, Ah...
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.