Kompas.com - 23/11/2017, 19:07 WIB
|
EditorArdi Priyatno Utomo

Sejak operasi militer yang dilakukan militer Myanmar terjadi 25 Agustus lalu, 620.000 etnis Rohingya mengungsi ke Banglades.

Di Banglades, mereka menceritakan kejamnya perlakuan militer. Di antaranya perkosaan perempuan yang dilakukan sedikitnya oleh lima orang tentara.

Atau temuan Amnesti Internasional bahwa Myanmar melakukan politik apartheid kepada Rohingya.

Temuan itu membuat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson, menyebut Myanmar tengah melakukan pembersihan etnis.

Kedutaan Besar AS kemudian mengeluarkan pengumuman resmi yang berisi pelarangan pejabat Negeri Paman Sam mengunjungi Rakhine.

Baca juga : Terkait Krisis Rohingya, Pejabat AS Dilarang Berkunjung ke Rakhine

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Sumber AFP, BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.