Peternakan Inovatif Berbasis Lingkungan dan Kesejahteraan Hewan di Belanda - Kompas.com

Peternakan Inovatif Berbasis Lingkungan dan Kesejahteraan Hewan di Belanda

Kompas.com - 17/11/2017, 22:49 WIB
Foto yang diambil pada 4 Agustus 2017 ini memperlihatkan peternak sapi perah Gerard Hartveld (52) dan sapi-sapi di peternakan miliknya di Nieuwveen, Belanda.AFP PHOTO/CHARLOTTE VAN OUWERKERK Foto yang diambil pada 4 Agustus 2017 ini memperlihatkan peternak sapi perah Gerard Hartveld (52) dan sapi-sapi di peternakan miliknya di Nieuwveen, Belanda.

BEBERAPA hari lalu, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah artikel yang cukup menarik. Sebuah peternakan ayam Kipster di Castenray, Provinsi Limburg, Belanda, berhasil memproduksi telur ayam bebas CO2.

Hal ini tentu sebuah prestasi besar, mengingat mereka mampu memproduksi telur ayam tanpa harus mencemari lingkungan.

Seperti diketahui, kegiatan peternakan dan pertanian pada umumnya akan mengeluarkan emisi karbon dalam proses produksinya. Produksi telur bebas CO2 oleh peternakan tersebut diklaim sebagai produksi telur bebas CO2 pertama di dunia.

Sebagai seorang mahasiswa ilmu lingkungan, saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang tidak mudah dilakukan. Jangankan menjamin produksi bebas karbon, untuk menghitung karbon yang sudah dihasilkan saja tidak mudah.

Biasanya, perusahaan ramah lingkungan hanya bisa mengurangi emisi karbon namun tidak sampai nol. Lebih jauh lagi, Kipster mengakui bahwa peternakan mereka adalah peternakan ayam paling ramah lingkungan di dunia.

Ada beberapa faktor yang menjadi perhatian mereka, terutama penggunaan energi dan pemilihan jenis ayam dan makanan. Peternakan yang berbasis di Limburg tersebut menggunakan panel surya untuk mencukupi kebutuhan energi dalam proses produksi hariannya. Tak tanggung-tanggung, peternakan tersebut memasang sekitar 1100 buah panel surya.

Selain sumber energi yang ramah lingkungan, jenis ayam yang dibudidayakan juga benar-benar diperhatikan. Peternakan tersebut hanya menggunakan ayam putih, di mana ayam jenis ini dipercaya memiliki bobot lebih ringan daripada ayam coklat dan mengonsumsi lebih sedikit makanan.

Hebatnya lagi, ayam-ayam yang dibudidayakan di peternakan tersebut tidak diberi makanan segar seperti jagung atau biji-bijian lain maupun makanan instan. Peternakan tersebut menggunakan limbah (residual flows) seperti sisa roti dan produk pertanian sebagai bahan makanan untuk ayam. Selain lebih hemat energi dan biaya, hal ini juga sangat bermanfaat dalam mengurangi limbah.

Hal lain yang ingin saya soroti adalah kesejahteraan hewan (animal welfare). Di peternakan Kipster tersebut, kesejahteraan hewan sangat diperhatikan.

Dengan masukan dan dukungan dari Dierenbescherming, sebuah organisasi perlindungan hewan di Belanda, ayam tersebut tinggal di sebuah kebun yang tertutup kaca dengan beberapa pohon dan ranting pohon untuk burung-burung.

Ayam tersebut tidak diternakkan di kandang ayam konvensional yang terkesan sempit, seperti yang kita kenal selama ini. Ayam yang diletakkan di kandang konvensional tentu membatasi pergerakan mereka sehingga rentan menimbulkan stres bagi si ayam.

Dengan sistem kandang kaca tersebut, ayam yang dibudidayakan tersebut lebih leluasa bergerak dan ini diharapkan dapat mengurangi tingkat stres mereka. Dengan demikian, produktivitas mereka diharapkan akan meningkat.

Di Belanda, sebenarnya isu kesejahteraan hewan seperti ini bukanlah hal baru. Beberapa peternakan ayam dan sapi sudah mengaplikasikan isu ini dengan baik dalam produksi sehari-hari mereka.

Pada awal 2017, saya berkesempatan mengikuti ekskursi ke De Hooilanden, sebuah peternakan sapi di Belanda yang berbasis kesejahteraan hewan.

Di tempat itu, saya berkesempatan mempelajari sistem budidaya sapi secara langsung dari pemilik peternakan tersebut. Di sana, sapi benar-benar dirawat sesuai dengan "kemauan" mereka.

Ada beberapa jenis habitat yang berbeda di peternakan ini. Ada habitat di dalam kandang indoor yang tertutup rapat. Ada pula habitat di kandang tertutup, tetapi tanpa dinding (semi-outdoor). Ada juga yang ditempatkan di alam terbuka.

Penempatan sapi di masing-masing kandang ini disesuaikan dengan "keinginan" sapi tersebut. Hewan-hewan tersebut bisa memilih tempat yang mereka anggap paling nyaman untuk tinggal.

Di jenis habitat pertama dan kedua, peternak akan menaruh makanan di kandang. Adapun pada habitat ketiga, sapi bisa langsung makan rumput segar dari alam terbuka.

Jenis dan kondisi makanan yang diberikan untuk tiap individu sapi bisa juga berbeda-beda. Ada sapi yang lebih suka makan rumput dalam kondisi segar, semi-segar, layu, atau dedak.


Peternak di tempat tersebut bahkan memiliki data tentang makanan kesukaan sapi per individu berdasarkan nomor mereka karena semua sapi di Belanda diberi nomor label.

Untuk mengidentifikasi "kemauan" sapi tersebut, mereka harus melakukan survei beberapa periode. Jujur, awalnya susah memercayai semua itu. Namun setelah diajak berkeliling, saya pun benar-benar percaya.

Belanda sendiri memang terkanal dengan hamparan padang rumput hijau dan sekumpulan sapi berwarna hitam putih, di samping kincir angin.

Meskipun demikian, ada juga beberapa peternakan yang masih menerapkan sistem tradisional, yaitu dengan memperlakukan semua sapi sama.

Di lain kesempatan, saya juga mengikuti sebuah ekskursi ke peternakan lain yang menerapkan sistem ini. Di peternakan tersebut, semua sapi diletakkan dalam kandang yang sama.

Dalam satu kandang, terdapat banyak sapi yang hidup bersama-sama dengan ruang yang cukup terbatas. Jenis makanan yang diberikan pun sama untuk semua sapi. Ada cukup banyak peternak yang menerapkan sistem ini di negara tersebut.

Meskipun namanya tradisional, tetapi teknologi yang digunakan oleh peternak tersebut sudah canggih. Selain memiliki alat pemerah susu otomatis, mereka juga memiliki alat untuk pemrosesan dan penyimpanan susu sapi.

Terlepas dari perbedaan semua sistem ternak tersebut, peternakan Belanda tetap salah satu yang terbaik di dunia dengan inovasi dan teknologi yang patut dicontoh.

Hingga saat ini, Negeri Bunga Tulip ini masih memimpin pasar dunia khususnya di bidang peternakan pada produk unggas, pengolahan daging merah, susu, dan keju.

Rivandi Pranandita Putra
MSc Student of Environmental Sciences (MES)
Wageningen University & Research, Belanda (ppidunia.org)


EditorLaksono Hari Wiwoho

Komentar

Close Ads X