Kompas.com - 16/11/2017, 18:56 WIB
|
EditorErvan Hardoko

YANGON, KOMPAS.com - Para pengungsi Rohinya tak bisa kembali ke negara bagian Rakhine hingga warga Myanmar "yang sesungguhnya" siap menerima mereka.

Demikian disampaikan Jenderal Min Aung Hlaing, panglima AD Myanmar, Kamis (16/11/2017), yang membuat masa depan repatriasi etnis minoritas Rohingya semakin tak jelas.

"Penekanan harus ditempatkan pada keinginan warga asli Rakhine yang merupakan warga negara Myanmar. Hanya jika warga asli Rakhine menerima, maka semua pihak akan puas," ujar Hlaing lewat akun Facebook-nya.

Sang jenderal juga menegaskan, Myanmar tak akan mengizinkan seluruh warga Rohingya di Bangladesh kembali ke negeri itu.

Baca juga : Pemerkosaan Perempuan Rohingya Dilakukan Lebih dari 5 Tentara Myanmar

"Sangat tidak mungkin menerima jumlah orang yang diusulkan Bangladesh," tambah Hlaing yang menyebut para pengungsi itu adalah "teroris" yang kabur bersama keluarga mereka.

Pernyataan Jenderal Hlaing ini diucapkan hanya sehari setelah dia bertemu dengan Menlu AS Rex Tillerson pada Rabu (15/11/2017).

Dalam pertemuan itu, Tillerson menyerukan agar militer Myanmar mendukung upaya pemulangan seluruh pengungsi sembari menambahkan bahwa laporan terkait kekerasan yang dilakukan tentara Myanmar sangat kredibel.

Sebelumnya, Myanmar dan Bangladesh pada dasarnya sudah sepakat untuk memulai pemulangan kembali para pengungsi Rohingya.

Namun, kedua negara masih belum sepakat dalam sejumlah detil proses pemulangan tersebut.

Salah satunya adalah jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh yang diizinkan pulang ke Rakhine.

Pertanyaan berikut adalah di mana mereka akan tinggal setelah desa mereka dibumihanguskan tentara dan bagaimana para pengungsi itu bisa kembali membaur dengan warga Rakhine lainnya.

Lebih dari 600.000 warga etnis Rohingya kini berdesakan di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh setelah melarikan diri dari kampanye militer brutal di Myanmar yang digelar sejak akhir Agustus lalu.

Baca juga : Menlu Tillerson Sebut Sanksi ke Myanmar Tidak Akan Selesaikan Krisis Rohingya

PBB mengatakan, operasi bumi hangus yang mengakibatkan ratusan desa Rohingya di negara bagian Rakhine rata dengan tanah itu sudah bisa dikatakan sebagai upaya pembersihan etnis minoritas.

Namun, tudingan PBB itu dibantah Jenderal Min Aung Hlaing dengan menegaskan prajurit Myanmar hanya mengincar para pemberontak Rohingya.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.