Kompas.com - 11/11/2017, 19:36 WIB
|
EditorErvan Hardoko

PARIS, KOMPAS.com - Seorang pria Perancis yang terancam hukuman 15 tahun kerja paksa di Siberia berhasil melarikan diri melalui hutan-hutan Rusia dan menembus perbatasan yang dijaga sniper dan anjing-anjing ganas.

Dalam peristiwa yang disebut amat menampar wajah dinas rahasia Rusia itu, Yoann Barberau (39) berhasil lolos dari tahanan rumahnya di Siberia dan bersembunyi di Moskwa selama satu tahun.

Dia kemudian menerobos hutan yang dipenuhi serigala ke salah satu negara Baltik tetangga Rusia. Yoann sukses melarikan diri meski dia dinyatakan sebagai buronan nasional Rusia.

Mantan kepala Irkutsk Alliance Francaise, sebuah lembaga kebudayaan Perancis, mengklaim dia merupakan korban dari sebuah kampanye hitam online.

Baca juga : Rusia Peringati 100 Tahun Jalur Kereta Api Trans-Siberia

Dia dituduh sebagai seorang paedofil setelah agen-agen keamanan lokal meretas komputer pribadinya dan menggunakan identitasnya.

Setelah 14 bulan bersembunyi di Rusia, Yoann akhirnya berhasil keluar dari negeri itu dan kembali ke Perancis pada Jumat (10/11/2017).

Di kampung halamannya, Yoann menyebut para diplomat dan mantan Presiden Fracois Hollande sebagai pengecut karena gagal bernegosiasi dengan Presiden Vladimir Putin terkait nasib warganya.

Mimpi buruk Yoann dimulai tiga tahun lalu ketika 10 orang pria menculik dan memukulinya tanpa alasan yang jelas.

Kemudian, komputer pribadi Yoann diretas lalu foto-foto keluarganya disandingkan dengan foto-foto pornografi anak-anak.

Selanjutnya, foto-foto yang diklaim sudah direkayasa itu diunggah ke sebuah situs yang biasa dibaca para ibu Rusia.

Kepada para jurnalis, Yoann mengatakan, dia menduga telah menjadi sasaran karena dia merupakan kawan dekat wali kota Irkutsk, yang menentang Putin, di saat ketegangan antara Barat dan Rusia terkait masalah Ukraina memuncak.

Baca juga : Hanya Berbekal Cokelat, Anak Balita Ini Bertahan 3 Hari di Hutan Siberia

Yoann kemudian ditangkap polisi Rusia pada Februari 2015, ditahan selama 71 hari dan dimasukkan ke bangsal khusus pasien sakit jiwa.

Di situlah, ujar Yoann, dia diminta membayar uang sebesar 1 juta rubel atau sekitar Rp 228 juta untuk memastikan dia tak disuntik dengan sesuatu "yang berbahaya".

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Telegraph
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.