Kompas.com - 27/10/2017, 20:54 WIB
Massa pendukung pro-kemerdekaan Catalonia menggelar demo di Barcelona, Spanyol, pada 21 Oktober 2017. Mereka menyerukan pembebasan dua orang pimpinan Catalonia yang ditahan pihak Madrid. AFP PHOTO/LLUIS GENEMassa pendukung pro-kemerdekaan Catalonia menggelar demo di Barcelona, Spanyol, pada 21 Oktober 2017. Mereka menyerukan pembebasan dua orang pimpinan Catalonia yang ditahan pihak Madrid.
|
EditorErvan Hardoko

CATALONIA, KOMPAS.com - Pada Jumat (27/10/2017), sepenggal sejarah bakal tergurat di antara Spanyol dan Catalonia. Pasalnya, parlemen kedua belah pihak sama-sama melangsungkan voting.

Di Catalonia, dari 82 orang anggota parlemen, 70 di antaranya memilih mendeklarasikan kemerdekaan dari Spanyol. Sedangkan 10 orang menolak kemerdekaan dan sisanya abstain.

Hasil pemungutan suara ini, seperti diwartakan Euronews, disambut gembira ribuan orang yang memadati gedung parlemen di Barcelona.

Mereka pun menyanyikan lagu kebangsaan Catalonia, dengan Estelada (bendera kebangsaan Catalonia) tak henti-hentinya berkibar.

Baca juga : Pemimpin Catalonia Umumkan Tak Ada Pemilihan Dini

Voting ini merupakan reaksi parlemen setelah Presiden Carles Puigdemont mengumumkan tidak akan menggelar pemilihan dini 20 Desember mendatang.

Pemilihan itu merupakan bentuk "tawaran" kepada Madrid agar tidak jadi memberlakukan Artikel 155 Konstitusi 1978.

Sementara di Madrid, di saat yang bersamaan tengah berlangsung pemungutan suara untuk menentukan penggunaan Artikel 155 Konstitusi 1978.

Artikel itu akan memberikan kekuasaan penuh kepada Perdana Menteri Mariano Rajoy untuk menghapus status otonomi Catalonia.

Tidak hanya masuk ke pemerintahan, nantinya Madrid juga akan mengintervensi media massa Catalonia baik itu surat kabar, televisi, maupun radio.

Dalam pidatonya di depan senat Kamis malam (26/10/2017), Rajoy mengatakan Spanyol tidak punya pilihan lain selain meminta parlemen menyetujui penggunaan artikel 155.

Sebab, dalam pandangan Rajoy, Catalonia sudah tidak mematuhi hukum yang berlaku.

"Ketika hukum tidak dipatuhi, demokrasi menderita, dan hukum terkena imbasnya," tegasnya.

Baca juga : Spanyol Tak Berikan Pilihan, Catalonia Tetap Ingin Merdeka

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Euronews
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.