Kompas.com - 24/10/2017, 07:00 WIB
EditorPascal S Bin Saju

KOMPAS.com - PERANG itu kejam, menghancurkan, membunuh, menghilangkan nyawa, dan merusak semua sendi kehidupan, dengan korban terbanyak adalah warga sipil, terutama lagi anak-anak dan perempuan.

Begitulah kenyataan yang dialami Suriah. Kekurangan pangan terus mendera warga sipil yang terkepung perang di dalam negeri mereka.

Persoalan ini menjadi sorotan luas setelah gambar seorang bayi penderita gizi buruk akirnya mati mengenaskan akibat kelaparan di pinggiran kota Damaskus, ibu kota Suriah, yang dikuasai oposisi.

Foto bayi malang itu dirilis pada Senin (23/10/2017) oleh kantor berita Perancis, AFP, dan dibuat ketika bayi bernama Sahar Dofdaa itu masih hidup dengan berat badan hanya dua kilogram.

Baca: Enam Tahun Perang Suriah, dari Aksi Damai Hingga Tembakan 60 Rudal AS

Mata bayi itu tampak sangat cekung dan riakan tulang rusuknya menonjol hanya tinggal kulit, sebagaimana dilaporkan The Guardian.

Saat dipotret, bayi itu sedang dalam perawatan pemulihan oleh seorang dokter di kota Hamouria, di timur Ghouta. Namun, Dofdaa akhirnya meninggal pada Minggu (22/10/2017).

"Pasokannya sangat rendah, dan jika terus berlanjut banyak anak akan mati," kata seorang petugas bantuan, yang meminta namanya tidak disebutkan.

Puluhan ribu warga sipil di Ghouta hidup di bawah blokade yang dipaksakan oleh pasukan yang setia kepada Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Sekitar 3,5 juta orang di Suriah tinggal di daerah yang terkepung atau sulit dijangkau, dan sebagian besar berada di tempat yang dikelilingi oleh pasukan pro-rezim Assad.

Baca: Inilah Pihak-pihak yang Terlibat Konflik Rumit di Suriah

Setelah kematian Sahar Dofdaa, para pegiat kemanusiaan memperingatkan tentang malapetaka besar di negara yang dilanda perang itu.

Petugas kemanusiaan juga menegaskan, kematian akibat kelaparan di negara yang dilanda perang itu masih membayangi karena banyak anak penderita gizi buruk sebagai dampak krisis pangan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.