Kompas.com - 19/10/2017, 09:02 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

WASHINGTON, KOMPAS.com - Aksi penembakan kembali terjadi di Amerika Serikat.

Kali ini seorang pria berpistol melakukan serangan hingga menyebabkan tiga orang tewas dan dua lainnya mengalami luka serius. 

Pelaku diidentifikasi bernama Radee Prince, berusia 37 tahun.

Dia melakukan aksinya di sebuah distrik bisnis di Maryland, Rabu waktu setempat (18/10/2017).

"Tersangka dalam peristiwa ini telah diamankan, dan ditahan oleh polisi," demikian pernyataan pihak Departemen Kepolisian Wilmington, yang dikutip AFP.

Kepala Kepolisian Wilmington, Robert Tracy, mengatakan, Prince adalah orang yang berbahaya.

Baca: Mengapa AS Tak Sebut Penembak di Las Vegas Sebagai Teroris?

 

Lelaki itu diketahui menembak enam orang dalam sehari, dalam sebuah penyerangan yang tidak acak.

Artinya, diduga dia memang menyasar orang-orang tertentu dalam penyerangan itu.

Prince diburu terkait penembakan beruntun pada dini hari di Edgewood, Maryland, dan insiden penembakan di Wilmington, Delaware pada pagi harinya.

Kepala Polisi Harford County, Jeffrey Gahler mengatakan, tiga orang tewas dalam insiden pertama di sebuah perusahaan granit, sebelum pukul 09.00 waktu setempat.

Sementara, ada dua korban yang harus dilarikan ke rumah sakit karena menderita luka serius.

Ketika Prince masih dalam pemburuan, area sekolah di Edgewood ditutup.

Gahler mengatakan Prince memiliki hubungan dengan perusahaan Advanced Granite Solutions, tempat penembakan pertama terjadi, di dekat Baltimore.

Pelaku diketahui sempat tercatat sebagai pekerja di perusahaan itu, selama empat bulan.

"Penembakan merupakan serangan yang sudah ditargetkan, berkaitan dengan perusahaan itu," kata dia.

Polisi juga menyebutkan, kelima korban merupakan karyawan di perusahaan tersebut. 

Namun, Gahler enggan memberikan keterangan lebih rinci terkait penyelidikan tersebut.

Sementara, satu orang di luar kelima korban itu, tengah berada di sekitar lokasi itu dan ikut terluka dalam peristiwa penembakan tersebut.

Tracy mengatakan, korban pada penembakan kedua mampu mengenali siapa pria bersenjata itu.

"Mereka saling mengenal dan memiliki sejarah masa lalu bersama," kata dia dalam konferensi pers.

Tersangka melarikan diri setelah melakukan serangan pertama dengan sebuah mobil yang terdaftar di Delaware.

Tragis

Insiden penembakan massal tersebut merupakan yang terakhir terjadi, namun pembunuhan tragis semacam itu kerap terjadi.

Sebelumnya, pada 1 Oktober 2017, seorang pria bersenjata menghujani penonton konser di Las Vegas, dari sebuah kamar hotel kasino.

 

Baca: Terkait Pembantaian Las Vegas, Benarkah Paddock Sendirian?

Pria itu menewaskan 58 orang dan melukai lebih dari 500 orang. Itu menjadi aksi penembakan paling mematikan dalam sejarah AS.

Sepanjang tahun ini, telah terjadi 286 penembakan massal di AS, atau artinya, hampir satu penembakan per hari.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.