"Tuduhan Militer Rwanda Siksa Ratusan Tahanan Tak Berdasar"

Kompas.com - 11/10/2017, 20:21 WIB
Menteri Kehakiman Rwanda Johnston Busingye VIA newtimes.co.rwMenteri Kehakiman Rwanda Johnston Busingye
EditorGlori K. Wadrianto

KIGALI, KOMPAS.com - Otoritas Rwanda, Rabu (11/10/2017), membantah tudingan yang menyebut pihak militer telah melakukan penyiksaan terhadap ratusan tahanan, demi mendapatkan pengakuan. 

Tudingan itu dilansir Human Rights Watch (HRW) dalam sebuah laporan setebal 91 halaman yang diterbitkan Selasa kemarin.

Disebutkan, ada 104 kasus penyiksaan terhadap mereka yang ditahan secara ilegal, Mereka disiksa di pusat penahanan militer Rwanda antara tahun 2010-2016. 

Tak hanya itu, lembaga tersebut menduga jumlah yang sebenarnya jauh lebih tinggi dari yang dikonfirmasi. 

Laporan tersebut menyebutkan, korban penyiksaan adalah mereka yang dituduh bekerja sama dengan musuh Pemerintah Rwanda.

Mereka dibawa ke sebuah lokasi yang tak diketahui, sebelum disiksa dengan cara membekap agar tak bisa bernafas, atau menggunakan alat kejut listrik.

Penyiksaan terus dilakukan hingga tahanan yang bersangkutan berbicara dan menandatangani dokumen pengakuan atau pun menuduh orang lain.

Baca: Militer Rwanda Siksa Ratusan Tahanan untuk Dapat Pengakuan

Menteri Kehakiman Rwanda Johnston Busingye mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tidak ada bukti yang dapat dipercaya atas tuduhan tersebut.

"Tidak ada kebenaran dalam laporan Human Rights Watch. Rwanda meratifikasi dan tunduk pada Konvensi yang menentang penyiksaan, selain itu hukum domestik pun memagari praktik itu," katanya.

"HRW telah mendaur ulang tuduhan lama, mendiskreditkan, dan itu tidak berdasar," sambung dia seperti dikutip AFP.

"Mereka tidak memiliki bukti yang dapat dipercaya. Laporan 'baru' ini merupakan kelanjutan dari agenda pembelaan HRW yang mengakar untuk melawan Rwanda," cetus Busingye.

Laporan lembaga pengawas yang berbasis di Amerika Serikat tersebut dilansir hanya dua bulan setelah mereka menuduh pasukan keamanan Rwanda, termasuk tentara, mengeksekusi setidaknya 37 orang tanpa proses hukum. 

Baca: 37 Orang di Rwanda Dieksekusi Mati tanpa Proses Hukum

Laporan terakhir kelompok tersebut menemukan fakta, sebagian besar korban ditahan karena dicurigai menjadi anggota FDLR -kelompok pemberontak yang didominasi kubu Hutu yang berbasis di Republik Demokratik Kongo timur.

Beberapa anggotanya dicurigai berpartisipasi dalam aksi genosida tahun 1994 yang menghancurkan negara tersebut.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Awal Genosida di Rwanda

 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X