Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 03/10/2017, 10:58 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

Caranya dengan menggunakan aksi kekerasan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak yang lebih luas, dibanding hanya pada para korban.

Isu terorisme dalam negeri

Tidak adanya informasi itu membuat banyak pihak kembali memperdebatkan isu terorisme dalam negeri yang sesunguhnya telah lama mengguncang AS.

Bahkan, sejak sebelum Timothy McVeigh menggunakan bom di dalam truk untuk menyerang gedung federal di Oklahoma City tahun 1995 lalu.

McVeigh dihukum bukan karena terorisme, tetapi karena menggunakan senjata pemusnah massal.

Dia pun membunuh delapan petugas penegak hukum federal dalam ledakan, yang secara keseluruhan menewaskan 168 orang.

Korban tewas dalam insiden penembakan di Las Vegas Minggu malam mencapai 59 orang.

Jumlah itu melampaui penembakan di klub malam Pulse di Orlando Juni 2016 yang menewaskan 49 orang.

Penembakan di Orlando dilakukan oleh Omar Mateen, warga AS berusia 29 tahun yang mengklaim telah menyatakan kesetiaan kepada kelompok ISIS.

Baca: Sosok Omar Mateen, Pembunuh 50 Orang di Orlando, Sangat Dikenal FBI

Ia kemudian tewas ditembak polisi. Presiden Barack Obama ketika itu menyebut insiden itu sebagai “tindakan teror dan kebencian.”

Dalam waktu beberapa jam setelah penembakan di Pulse itu, kandidat presiden ketika itu Donald Trump memberi ucapan selamat untuk dirinya sendiri.

Dia menganggap dirinya memiliki persepsi yang benar tentang teroris Islam radikal.

Hari Senin (2/10/2017), Trump sebagai Presiden AS menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga mereka, dan menyebut insiden itu sebagai tindakan keji.

Apa definisi terorime?

Di luar AS, sejumlah serangan yang dinyatakan sebagai tindakan teroris antara lain terjadi di Paris, Perancis pada November 2015. Serangan itu menewaskan 130 orang.

Lalu, penembakan membabibuta pada Juli 2011 oleh Anders Breivik, warga neo-Nazi asal Norwegia, yang menewaskan 77 orang.

Sebelum penembakan di Las Vegas, Randall Law yang menulis “Terrorism: A History” mengaku yakin ada komponen rasial yang membuat AS enggan mengklarifikasi atau mengajukan tuntutan dengan aturan hukum AS.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.