Kompas.com - 27/09/2017, 14:05 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

Baca: Menteri Dipecat, Gara-gara Foto Raja Faisal Bersama Master Yoda

Arab Saudi akan menggunakan "masa persiapan" sampai kemudian memperluas fasilitas perizinan dan mengembangkan infrastruktur untuk mengakomodasi jutaan pengemudi baru.

Ulama konservatif di Arab Saudi --kerajaan absolut yang diperintah menurut undang-undang syariah, telah lama mendukung larangan tersebut.

Mereka beralasan meniadakan larangan itu akan memicu persetubuhan. Sementara, pendapat lain menyebut, mengemudi dapat berpengaruh buruk bagi indung telur wanita.

Baca: Arab Saudi Danai Serangan Teror ?9/11? di AS, Ini Buktinya...

Sebelum ini, telah banyak aktivis hak-hak perempuan dipenjara karena mencela larangan tersebut.

Pengumuman kali ini tentu mengejutkan dan disambut secara luas, baik di dalam maupun di luar negeri.

"Hari yang mulia. Aku tidak dapat menahan air mataku," demikian bunyi komentar di akun Twitter anggota dewan Shura Saudi Latifah Alshaalan.

"Selamat kepada para wanita di tanah airku."

Aktivis Manal al-Sharif, yang memimpin gerakan protes "Perempuan2Drive" tahun 2011, juga mengunggah komentar di Twitter.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.