Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 30/08/2017, 09:37 WIB
EditorPascal S Bin Saju

Senin (28/8/2017), pemerintah Banglades mengajukan kerjasama operasi militer dengan Myanmar untuk melawan pasukan militan Rohingya di  Rakhine, dengan harapan untuk mengindari pengungsi memasuki negara mereka.

Tentara Banglades telah menahan dan memulangkan sekitar 500 warga Rohingya yang ingin melewati perbatasan sejak Senin (28/8/2017), demikian pernyataan Shariful Islam Jamaddar, seorang pejabat.

PBB dan tuduhan Suu Kyi

Sekjen PBB, Antonio Guterres, telah mengeluarkan pernyataan yang mendesak Banglades untuk segera menolong warga sipil yang melarikan diri dari ancaman kekerasan di Myanmar.

Guterres menegaskan "sebagian besar dari pengungsi adalah perempuan dan anak-anak, sebagian dari mereka bahkan terluka".

Namun, di saat bersamaan, kantor penasihat pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, malah menuduh lembaga bantuan internasional telah menolong "teroris".

Baca: Kisah Pemerkosaan Berkelompok dan Pembunuhan Warga Rohingya

Mereka mengaku akan membuktikan klaim tentang petugas dari lembaga internasional tertentu telah "berpartisipasi dengan para ekstremis saat mengepung sebuah desa di Rakhine."

Bukti yang diperlihatkan pejabat Suu Kyi adalah sebuah foto dari salah satu program kampanye makanan milik PBB yang ditemukan di "kamp persembunyian teroris" pada akhir Juli lalu.

"Atas situasi yang terjadi saat ini, PBB di Myanmar untuk sementara akan memindahkan sejumlah staf keluar dari Maungdaw," demikian pernyataan juru bicara PBB setempat.

Mengutip Reuters, Deutsche Welle menyebutkan, sekitar 100 staf meninggalkan kota Buthidaun pascaklaim pemerintah yang dirilis lewat Facebook pada Minggu (27/8/2017).

Pada Februari lalu, Komisioner PBB Bidang Hak Asasi Manusia menyebutkan, tentara Myanmar telah melakukan kekerasan komunal seperti pembunuhan massal dan perkosaan terhadap warga Rohingya.

Baca: Tiba di Banglades, Ratusan Pengungsi Rohingya Bawa Kisah Horor

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.