Kompas.com - 22/08/2017, 16:45 WIB
EditorPascal S Bin Saju

KABUL, KOMPAS.com - Tes keperawanan yang masih banyak dilakukan aparat pemerintah di Afganistan mendorong Komisi Independen Hak Asasi Manusia di negara tersebut untuk menyerukan lagi dihentikannya praktik tersebut.

Komnas HAM Afganistan menyatakan tes tersebut -yang ditujukan untuk mengetahui apakah selaput dara masih utuh- berdampak buruk secara psikologis dan pada praktiknya tak berbeda dengan pelecehan seksual.

"Pemaksaan tes keperawanan bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia... sering kali dilakukan tanpa izin dan karenanya ini adalah pelecehan seksual dan pelanggaran HAM," demikian pernyataan Komnas HAM Afghanistan.

Baca: Tes Keperawanan Tak Dipercayai Suami, Perempuan Ini Bunuh Diri

Mereka mengatakan polisi di ibu kota Kabul dan kota-kota besar lain sering menahan perempuan-perempuan muda, yang ditemukan tengah berduaan dengan lelaki lain atau yang dituduh kabur dengan kekasih, lalu memaksa mereka untuk menjalani tes keperawanan yang dikatakan sangat intrusif.

Polisi di Afganistan hingga Senin (21/8/2017) tidak bersedia memberikan komentar atas seruan Komnas HAM.

Para pegiat juga mengatakan para perempuan yang dipaksa menjalani tes keperawanan menjadi korban stigma sosial di masyarakat.

Menurut Komnas HAM Afganistan, perempuan yang dipaksa menjalani tes keperawanan kehilangan rasa percaya diri, jadi merasa tidak berdaya, dan tak punya harapan.

"Karena dampak buruk ini, perempuan yang menjalani tes keperawanan kemudian sering hidup menyendiri dan oleh sebab itu kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan. Tes keperawanan juga berpengaruh buruk terhadap kehidupan sosialnya."

Baca: Tes Keperawanan yang Bikin Heboh di Afganistan

Komnas mendesak agar tes keperawanan dihapus dan dilarang serta meminta pemerintah bersama parlemen mengeluarkan undang-undang pelarangan tes keperawanan.

Data yang dihimpun surat kabar Amerika Serikat, New York Post, menunjukkan satu kantor pemerintah di Kabul melakukan sekitar 42 tes keperawanan pada paruh pertama 2016, sementara setahun sebelumnya kantor ini melakukan sekitar 80 tes.

Diperkirakan jumlah sebenarnya lebih besar karena sulitnya pengumpulan data dari kantor atau instansi pemerintah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.